Narasi Patah Hati di Konser Cigarettes After Sex Live in Jakarta

foto: kanaltigapuluh.info

Pria berjanggut subur tapi berambut gersang itu tak banyak basa basi. Pembawaannya yang kalem bin menghanyutkan selaras dengan lagu-lagu yang dibawakannya. Sejenak, langit-langit The Establishment terhening, ikut terenyuh dalam nada nada yang dinyanyikan pria tersebut bersama ketiga orang lainnya yang tergabung dalam sebuah band dengan nama yang seksi sekaligus eksentrik.

Cigarettes After Sex namanya. Keempat pria tersebut malam itu mengadakan pertunjukan di The Establishment, Jakarta tanggal 16 Agustus dalam konser mereka yang pertama kalinya di Indonesia. Pada malam yang syahdu seperti malam-malam sebelumnya, band beraliran ambient  itu membawakan lagu-lagu yang bekerja dengan baik di tengah suasana hati yang tidak baik-baik saja. Tidak ada yang tahu diantara sekian ratus penonton yang hadir disana siapa saja yang datang dengan memikul berjuta masalah dari rumah. Ataupun datang dengan membawa segenggam hati yang remuk diterpa harapan yang tak bertuan. Hanya mereka dan sang pemilik hati yang tahu. Satu hal yang pasti semua penonton dengan masalahnya masing-masing, datang untuk menonton dan ber sing along bersama Cigarettes After Sex untuk sejenak melupakan beban-beban yang dipikul dari rumah.

sumber: detikcom

Greg Gonzalez dkk membawakan kombinasi antara lagu-lagu di album self titled dan lagu-lagu lamanya. Deretan hits seperti ‘Sweet’, ‘K’, Sunsetz’, ‘Nothing's Gonna Hurt You Baby’, Affection’ dibawakan nyaris tanpa jeda. Sesekali Greg yang tampak grogi di atas panggung mengucapkan terimakasih kepada seluruh penonton. Kualitas audio yang baik di venue dipadukan dengan penghayatan penuh Greg mampu menyalurkan emosi yang terkandung di setiap lagu dengan sempurna ke penonton yang khusyuk memperhatikan penampilan kuartet itu sembari menyanyikan bait demi bait. Beberapa ada yang bernyanyi dengan lantang, dan lainnya cukup mendendangkannya dalam hati, sembari meresapi lirik yang dinyanyikan, beberapa lagi ada yang memulai kontak sentuhan dengan pasangannya, dan juga ada yang meneteskan air mata dalam diam, mungkin. Lagu-lagu yang bercerita tentang problematika cinta umat manusia itu berbaur dengan asap rokok dan aroma anggur merah di udara, menciptakan suasana mellow yang tak terbendung.

Konser selama 1,5 jam kurang itu diakhiri oleh encore ‘Please Don’t Cry’ dan ‘John Wayne’ yang diakhiri tepuk tangan panjang dari penonton. Greg dkk yang dari awal irit sekali bicara ini mengakhiri konser dengan ucapan terimakasih berkali-kali. Penonton yang tidak terima karena set yang kurang lama terus berteriak ‘we want more!’ namun tidak digubris oleh Greg dkk yang langsung turun panggung. Konser yang tergolong singkat namun sangat berkesan. Akhirnya Cigarettes After Sex menutup perjalanan singkatnya di Jakarta dengan ucapan terimakasih yang terakhir kalinya.

Pada hakikatnya, menonton konser bertujuan untuk menghilangkan penat kehidupan sejenak, atau yang ingin membuai diri bersama pasangannya di puncak kebahagiaan, sekaligus meneteskan obat di goresan luka hati yang tak kunjung pudar. Menonton Cigarettes After Sex mampu mengkombinasikan ketiga hal tersebut,sehingga menimbulkan perasaan campur aduk setelahnya. Saya pribadi merasakan efek ini baru dua-tiga hari setelah konser itu. Menonton mereka sangat disarankan terutama bagi jiwa jiwa yang baru patah hati, niscaya sesampainya di rumah akan menangis kejer sambil garuk garuk tanah.

Napak Tilas #WTF17 Day 2: Seremonial Puncak Remaja Milenial Ibukota

foto: hardrock FM

Jujur saja, ungkapan We The Fest sebagai festivalnya para hipster sejagat nusantara ini konyol sekali. Pasalnya ribuan orang dari berbagai macam latar datang kesini tidak hanya untuk menikmati festival ala-ala Coachella, tapi juga untuk memamerkan segala outfit yang melekat di tubuh mereka demi kepentingan panjat sosial di instagram. Bahkan yang memamerkan outfit seadanya pun banyak, seperti contohnya salah satu cewek yang  hanya memakai dalaman bra plus outer jaket yang sengaja dipakai dengan longgar untuk menonjolkan asetnya. Yang gini gini nih, yang bisa mempertebal iman dan takwa saya kepada Tuhan di tengah-tengah festival ini, sambil mensyukuri betapa indahnya ciptaanNya. Selain itu saya yakin banyak diantara orang-orang ini yang sebenarnya bahkan tidak tahu siapa saja musisi yang akan tampil disini, yang terpenting bisa pamer di Instastorynya untuk membentuk image ‘remaja doyan party’ atau foto di payung warna warni yang ikonik itu. Tapi ya balik lagi ke selera dan tujuan masing-masing, toh mereka sudah bayar tiket yang harganya selangit untuk datang ke festival multi genre besutan Ismaya ini.

Berdasarkan data yang dihimpun dari pihak penyelenggara, tercatat ada sekitar 50 ribu orang yang hadir dalam tiga hari festival yang diselenggarakan di Jiexpo Kemayoran ,menggantikan venue  tetap sebelumnya yang berlokasi di Parkir Timur Senayan.   Sebuah jumlah yang tidak kecil untuk sebuah festival musik di negara ini. Bapak Presiden Jokowi yang seorang metalhead pun sudah mengendus hal ini dan menyempatkan diri untuk datang langsung ke acara di hari pertama dengan setelan kaos merchandise resmi WTF dan celana panjang. Sontak kehadiran orang nomor satu di Indonesia itu disambut dengan gegap gempita oleh muda-mudi yang hadir. Entah misi beliau untuk merangkul suara generasi milenial yang demografinya paling menjanjikan saat ini, atau sekadar kunjungan santai saja. Yang jelas kedatangan Jokowi ini menjadi topik utama pemberitaan media massa mengalahkan deretan artis yang tampil di hari pertama.

foto: tribunnews.com

Siang menjelang senja merekah di Jakarta yang sangat terik sabtu itu. Saya membeli tiket early entry 1 day pass pada hari kedua, dimana bercokol nama-nama agung seperti Phoenix dan Lany.Sesampainya di lokasi, saya langsung menonton Barasuara yang berkolaborasi dengan Scaller. Ini adalah kesebelas kalinya saya menonton Barasuara dan rasanya masih sama seperti saat saya pertama kali menonton mereka di Hai Day dua tahun lalu. Bagi Barasuara sendiri, ini adalah penampilan keduanya di WTF setelah gelaran tahun kemarin . Seperti biasa Barasuara dan Scaller bergantian membawakan lagu-lagu terbaiknya di albumTaifun dan Senses. Sayangnya, ini adalah WTF bukan urbangigs, dimana act lokal tidak begitu dihargai seperti di gigs-gigs gratisan itu. Penonton memang lumayan banyak yang hadir, tapi sedikit sekali yang bergoyang mengikuti lagu bertempo upbeat keduanya. Terlepas dari itu, mereka selalu menampilkan yang terbaik seperti biasanya. One of the best local act in the last 3 years, obviously.

Selepas itu, di stage is Bananas yang menjadi satu-satunya stage indoor,penampilan The Adams menunggu. Hadir dengan nostalgia generasi pertengahan 2000-an, The Adams sukses menggerayangi penonton dengan penampilan energiknya selama hampir satu jam. Sebagian besar penonton yang sebenarnya hadir untuk menunggu penampilan selanjutnya yaitu Lany mengangguk-angguk khidmat menikmati nomor bertempo cepat dari Ario cs.  Setelah The Adams kelar, tibalah saatnya headliner malam itu, Lany unjuk gigi. Saat masih setting panggung, crowd tak henti-hentinya meneriakkan Lany, agar mereka cepat muncul ke atas panggung. Sesuai dengan jadwal, Lany akhirnya muncul lalu membawakan lagu-lagu andalan dari album debutnya This Is Lany seperti ‘ILYSB’ dan ‘Good Girl’ serta beberapa lagu lama seperti ‘Where the Hell Are My Friends’ dan lain-lain. Paul, sang vokalis yang punya sex appeal berlebih ini menjadi sasaran ‘tembak’ penonton cewek yang memenuhi This Stage Is Bananas. Secara keseluruhan penampilan Paul cs sangat rapi, dengan sound yang tertata dengan baik. Aksi panggung Paul juga lumayan atraktif, beberapa kali dia beratraksi dengan keyboard dan gitarnya untuk memukau penonton.

dokumentasi pribadi

Di stage sebelah, yaitu WTF Stage, giliran rapper bernama Gnash yang tampil. Meskipun saya tidak hapal satupun lagu Gnash kecuali line ‘i hate you, i love you, i hate that, i love you’ ini, saya memutuskan untuk menonton Gnash sembari menunggu penampil berikutnya yaitu Phoenix. Pada awalnya saya begitu sinis dengan penampilan Gnash, terutama tatanan rambutnya yang menyerupai masteng-masteng  tanah abang, versi bule tentunya. Namun ternyata Gnash mampu menyuguhkan penampilan yang keren, terutama stage presencenya yang memukau bahkan bagi saya yang awam musik Gnash. Dia sangat komunikatif dengan penonton, sehingga semua penonton tanpa terkecuali ikut menyanyikan baris demi baris lirik yang sebelumnya diajarkan dulu oleh Gnash kepada penonton.

Selanjutnya ada penampilan yang paling saya tunggu, yaitu Phoenix. Sekumpulan pria necis yang berkibar di era yang sama dengan kejayaan Daft Punk ini memulai setnya pukul 10 lewat 20 menit malam dengan lagu pembuka di album teranyar mereka, Ti Amo.dilanjut dengan J-Boy dari album yang sama. Pemilihan lagu yang tepat benar-benar berhasil membakar WTF stage dengan goyangan seluruh penonton mengikuti tempo lagu yang bernuansa disko. Selain setlist yang sempurna, yang membuat saya terkagum lagi adalah tata panggung yang sudah diatur sedemikian rupa hingga tampak elok, persis seperti di yang ditampilkan di videoklip J-Boy. Selain itu lighting yang tanpa cacat menjadi sahabat tak terpisahkan bagi penampilan Thomas Mars yang sangat stabil dalam menyanyikan nomor demi nomor, Thomas Hedlund yang tanpa ampun menghajar drumnya dengan tempo luar biasa sepanjang konser, Christian Mazzalai yang memainkan gitarnya dengan kalem tapi mematikan, serta member lainnya yang juga tak kalah energik. Meskipun di awal-awal sound vokal dan bass terdengar balapan, secara keseluruhan penampilan Phoenix jauh di atas kata memuaskan. Lagu-lagu lawas seperti ‘If I Ever Feel Better’ dan ‘Entertainment’ tak lupa dibawakan beserta beberapa lagu dari masterpiece mereka ‘Wolfgang Amadeus Phoenix’. Thomas Mars yang terkagum dengan crowd yang luar biasa, beberapa kali bilang ‘you guys are the best ever!’ atau ‘Terimakasih’ tentu saja dengan aksen Prancisnya yang kental. Di encore, Mars memutuskan untuk berbaur dengan penonton diiringi musik ‘Ti Amo’. Meskipun tidak sampai stage dive, penonton dari depan sampai belakang berkesempatan untuk melihat sangat dekat hingga bersentuhan dengan Mars yang tentu saja dikawal security. Benar-benar penampilan yang luar biasa disuguhkan Mars dkk pada malam minggu itu. Saya dan mungkin banyak penonton lain sepakat Phoenix menjadi penampil terbaik di hari kedua WTF itu.

foto: cosmogirl.co.id

Setelah kericuhan Phoenix berakhir, tibalah giliran Cash Cash untuk menjajal WTF dengan DJ setnya. Walaupun saya merasa janggal dengan adanya DJ set karena membuat festival ini lebih terasa DWP dibanding WTF, tapi saya tetap menikmati penampilan Cash Cash yang menggenjot semangat penonton di tengah malam itu dengan drop-drop yang masif. Namun sayangnya baru setengah penampilan Cash Cash saya sudah diajak oleh teman tebengan saya yang merengek pulang duluan yang sudah terlanjur bete karena hp-nya hilang di tengah-tengah konser Daya. Huhu.

Jika diukur dari sisi We The Fest sebagai sebuah festival, saya akui bahwa Ismaya sudah berhasil membuat WTF sebagai sebuah festival seutuhnya. Berbagai suguhan penampilan selain musik juga digelar, lalu ada stand-stand yang unik seperti GoChill yang menyediakan foto 3D yang sedang ngehits, WTF Cinema Club yang menyuguhkan film-film indie bikinan anak negeri, karaoke ria di stand Ruru Radio, Art Village dan stand lainnya. Namun ada satu hal yang menyamakan semua stand di atas dengan segala keunikannya, yakni stand untuk berfoto yang instagramable banget. Pas sekali untuk remaja milenial yang haus akan feed yang penuh estetika. Akhir kata, We The Fest 2017 memuaskan!

Review Album: Sacred Hearts Club by Foster The People(2017)

consequenceofsound.com

Semua orang mengenal Foster The People sebagai pembuat super hit yang mudah diingat dan sangat ceria namun memuat lirik yang kelam berlatarkan tragedi penembakan anak-anak di sekolah Amerika beberapa tahun lalu. Beranjak dari situ dibarengi dengan suksesnya album perdana Torches, Mark Foster dan sejawat menjadi unit alternative pop yang paling diperhitungkan. Dan seiring dengan semakin berkibarnya nama mereka, harapan tinggi pun ditumpahkan ke pundak mereka. Follow up Torches yaitu album Supermodel yang dirilis pada tahun 2014 tidak terlalu mendapatkan respon yang bagus dari khalayak, meskipun secara kualitas sama sekali tidak kalah dari Torches. Lalu  dengan dirilisnya album ketiga baru baru ini apakah Foster The People mampu mengembalikan nama besarnya sebagai unit alternatif terdepan dalam kancah musik internasional?



Album ketiga Foster the People yang diberi judul Sacred Hearts Club ini dirilis 21 Juli lalu diawali dengan EP berjudul "III" yang memuat tiga lagu yaitu Pay The Man, Doing It For Money, dan SHC. Dari ketiga lagu ini terlihat jelas bahwa Foster The People terus berkembang dalam menciptakan musik yang lebih berkelas tanpa keluar dari "root"-nya. Terutama Doing It for Money yang ear catching dengan lirik sarkas yang cerdas. Di beberapa nomor, Foster The People masih menggunakan formula lama yang digunakan di album-album terdahulu untuk tetap meyakinkan fans lamanya bahwa mereka masih merupakan band yang sama yaitu Foster The People. Di sisi lain, nomor lainnya justru menunjukkan perubahan signifikan seperti Loyal Like Sid & Nancy. Nomor ini mungkin adalah nomor paling ambisius dari seluruh lagu yang pernah diciptakan Foster dkk. Dengan pengaruh hiphop sekaligus EDM yang kental namun sama sekali tidak keluar dari akar Foster The People dengan signatur vokal serta bass yang mencolok. Perlu mendengarkan beberapa kali lagu ini hingga benar-benar melekat di kepala, sekaligus meresapi fakta betapa jeniusnya Mark Foster dkk jika membuat lagu dengan pakem tidak biasa seperti Loyal Like Sid & Nancy ini. Lalu beranjak ke nomor berikutnya yang juga my personal favourite yaitu Sit Next to Me. Sebuah lagu yang easy listening dan 'Foster The People' banget.  Nomor ini juga merupakan single kedua yang dirilis setelah Loyal Like Sid & Nancy. Selanjutnya ada Lotus Eater dengan riff gitar yang menonjol, sebuah eksperimen keluar pakem lagi dari Foster dkk. Riff gitar di lagu ini sedikit mengingatkan saya dengan Arctic Monkeys era album-album awal.

Jika ditarik sebuah kesimpulan, Sacred Hearts Club merupakan album yang sama sekali tidak mengecewakan. Dari dua belas lagu yang terangkum, tidak ada satupun yang menjadi filler atau sekedar pelengkap penderita di album ini. Semua lagu disini layak untuk disimak. Foster The People sekali lagi membuktikan bahwa mereka dapat evolve tanpa harus meninggalkan signaturenya sebagai sebuah band indie pop yang gemar mengeksplor sound unik hingga menjadi sebuah masterpiece. Tetapi, jangan harap bakal ada Pumped Up Kicks jilid dua, karena Foster the People yang sekarang sudah jauh lebih matang dan akan terus berkembang untuk memunculkan kejutan-kejutan baru di masa mendatang.



Review Film: Danur(2017)

netralnews.com

Kita beruntung kembali ke era dimana film-film produk anak negeri mulai kembali diminati khalayak lokal. Setidaknya gembar gembor insan perfilman diatas sana bahwa film-film Indonesia harus menjadi raja di negeri sendiri kini menemukan titik cerah. Antrian panjang film lokal seringkali bersandingan dengan film-film bintang lima Hollywood, mencerminkan kualitas film kita yang tidak main-main. Lupakan dengan genre horor tete yang menjadi kenangan pahit produk perfilman negeri, karena genre-genre lain seperti komedi, drama, action bergantian menguasai singgasana bioskop tanah air.

Danur hadir tepat ketika genre horor justru lesu di tengah kebangkitan perfilman Indonesia. Ketika era horor tete bisa dikatakan berakhir, film horor beneran yang terbilang outstanding bisa dihitung dengan jari. Cukup menyedihkan sebenarnya, karena genre horor sesungguhnya pernah menguasai panggung perfilman Indonesia setidaknya dua kali, yaitu pada era kejayaan Suzanna dan era kebangkitan di abad 21 melalui film Jelangkung. Jadi, apakah Danur bisa menjadi jawaban atas lesunya genre horor di Indonesia belakangan ini?

Film yang diadaptasi dari novel karangan Risa Saraswati ini berkisah tentang anak perempuan bernama Risa(sang penulisnya sendiri) yang baru saja berulang tahun yang kedelapan. Kedua orangtuanya bekerja dan jarang berada di rumah untuk menemani Risa,  karena itulah Risa hanya memohon satu permintaan di hari ulang tahunnya kali ini, yaitu teman. Ternyata permintaan itu dijawab dan akhirnya Risa punya ‘teman’ bermain di rumahnya, dan cerita pun bergulir hingga mengakibatkan masalah serius bagi keluarga itu dan Risa sendiri yang mengalami kejadian menyeramkan semenjak itu.

Cerita-cerita yang beredar di media tentang eksistensi kelima hantu Belanda cilik tersebut yang begitu real, hingga mempengaruhi keputusan pembuat film untuk mengubah plot cerita hingga poster yang diprotes karena tidak memuat gambar mereka, menjadi bumbu tersendiri yang tentunya membikin penasaran penonton. Dan juga berita bahwa di pemutaran premiere sengaja disisakan lima bangku berbalutkan kain putih yang ‘katanya’ untuk Peter cs. Entah itu beneran atau cuma akal-akalan marketing, tapi fakta bahwa Danur diangkat dari kisah nyata berlatar di Bandung( dan sekolah saya dulu, karena kelima hantu cilik itu sempat berteman dengan Nancy, legenda SMA saya) membuat saya tetap menganggap Danur sangat sayang untuk dilewatkan.

bookmyshow.com


Film ini dibuka oleh intro yang sangat meyakinkan, ketika Risa yang diperankan oleh Prilly Latuconsina bernyanyi dengan aura penuh menyayat hati. Namun ternyata itu hanya pemanis awal.  Paruh awal film terasa membosankan karena perkenalan setiap karakter yang tidak maksimal. Seharusnya paruh awal film digunakan sebaik-baiknya untuk character development yang baik, agar penonton peduli dengan tiap tokoh, dengan latar kisah pilunya masing-masing. Namun hal itu tidak terjadi. Risa sebagai sosok sentral di film ini, sebenarnya punya potensi untuk menjadi pusat simpati penonton. Namun karena durasi yang sempit dan juga harus berbagi ruang bercerita dengan kelima hantu cilik itu membuat penceritaan terasa kurang baik.

Teror sesungguhnya justru dimulai ketika Risa dikisahkan sudah beranjak dewasa. Mba Asih yang tidak lain merupakan tokoh antagonis akhirnya diperkenalkan dengan cara yang elegan. Bahkan lebih baik dibandingkan dengan kemunculan Peter cs. Shareefa Daanish sebagai pemeran Mba Asih tentu saja menjadi faktor utama kenapa Mba Asih sebagai tokoh antagonis justru lebih menonjol dibanding Prilly sebagai Risa. Atmosfer kengerian yang ditimbulkan oleh mimik Mba Asih yang selalu tersenyum manja setiap kamera menyorot mukanya memang tak ada tandingan. Persis seperti perannya sebagai penjagal bertangan dingin di thriller Rumah Dara. Jika saja porsi bermain film horor dia lebih ditingkatkan, komparasi dia dengan Suzanna bukanlah sebatas lelucon belaka.

lastthingisee.com


Paruh kedua ini menjadi inti film. Jumpscare bertebaran dimana-mana. Namun kembali lagi sayang beribu sayang, eksekusi penampakan yang kurang matang membuat beberapa scene yang seharusnya berpotensi menimbulkan kengerian lebih malah jadinya datar. Di bagian klimaks film ini juga sebenarnya bisa lebih moncer jika dieksekusi dengan gaya Insidious. Tapi lagi-lagi yang terjadi adalah kekecewaan. Jika dibreakdown kebelakang, maka ada tiga hal yang mengganggu saya sepanjang film ini berputar yaitu, character development yang tidak maksimal sehingga ketiga hantu cilik yang seharusnya jadi karakter yang lovable menjadi biasa saja bagi kalangan non pembaca novelnya. Kedua yaitu durasi yang kurang sehingga ruang bercerita bagi para tokohnya jadi sempit, dan pada akhirnya adegan-adegan seram yang menjadi inti film horor jadi terburu-buru dan terkesan dipaksakan. Dan yang terakhir scoring di paruh awal film yang terasa seperti film sinetron kacangan, itu benar-benar mengganggu pendengaran saya. Hingga di suatu titik saya bertanya, beneran nih film horor yang digembar gembor orang bakal seru abis ini? Untung saja paruh kedua berhasil menyelamatkan film ini, setidaknya jika tolok ukurnya scoring.


Bertolak belakang dengan opini saya diatas, Danur meraih atensi begitu luas. Di hari pertama saja Danur mencetak rekor sebagai film horor Indonesia dengan penonton paling banyak di hari pertama. Jika ditanya, apakah Danur pantas menjadi tonggak kebangkitan film horor Indonesia? Bisa jadi. Mungkin produser-produser di sana tergugah untuk menelurkan film-film horor yang digarap secara serius, dan kebangkitan film horor Indonesia untuk yang ketiga kalinya akan segera terjadi. Semoga saja.

*di novel ada lima hantu cilik yang diceritakan, tapi di film yang tampil hanya tiga.

Live Review 7th Music Gallery: Instant Post Concert Depression

Foto:musicjurnal.com

‘Brengsek. Kenapa ga dari awal gue ngapalin semua lagunya ya :(’,

 itu reaksi pertama beberapa saat setelah keluar dari aula pertunjukan. Namun sesal dan lirih malam itu  terhapuskan oleh peluh bahagia karena Honne sebelumnya  berhasil meledakkan seisi balroom dengan musik seksi dan lirik nakal yang tanpa ampun memanjakan penonton yang hadir.

Sekadar pembunuh rindu, tulisan ini saya persembahkan untuk Mugal yang telah memberikan sajian moodboster tak terlupakan di malam minggu lalu. Music Gallery edisi ketujuh ini dihelat di Kuningan City Ballroom Sabtu tanggal 11 Maret lalu. Festival tahunan ini memang menjadi salah satu festival musik independen yang paling ditunggu karena lineupnya yang selalu istimewa. Untuk tahun ini Mugal mengundang Honne, salah satu prodigy di tahun 2016 lalu sebagai artis luar negeri sekaligus  headliner edisi kali ini.




Yup, prolog tadi adalah sebuah formalitas untuk menjadi tulisan yang baik dan sesuai kaidah bahasa indonesia. Oke balik ke topik. Acara yang banyak dihujat netizen yang dongkol karena tiket harga normal yang ludes dalam waktu 5 menit ini mulai dibuka pada pukul 2 siang. Namun, penampilan band-band baru dimulai pada pukul 4 sore. Venue tahun ini cukup menarik karena terdapat rooftop yang berviewkan landskap keindahan Jakarta di kala senja.  Dan kami beruntung datang dari sore hari, karena venue masih sepi jadi kami masih bisa mengambil foto dengan leluasa. Terdapat dua stage, yaitu main stage di lantai atas, tepatnya di aula, dan intimate stage di lantai bawah.

Penampil di jam-jam sore itu ada Rebelsuns, Ikkubaru, Peonies. Mereka adalah pendatang baru yang cukup diperhitungkan. Lalu di jam-jam menjelang magrib ada tamu kawakan, Ballads Of The Cliche serta pendatang baru lain Bedchamber.


dokumentasi pribadi

Setelah break magrib selama kurang lebih satu jam, tibalah giliran The Trees And The Wild untuk unjuk gigi . Band yang telah menjadi favorit bagi para  stagephotographer ataupun remaja milenial untuk memperbaharui feed instagramnya. TTATW adalah sebuah contoh sempurna bagaimana sebuah band bisa memadukan antara kualitas sound dengan visual panggung yang indah. Lighting yang sudah diatur sedemikian rupa memberikan keleluasan bagi siapapun untuk memotret dari angle manapun, dan hasilnya pasti bagus. Penampilan malam itu berhasil mengobati kekecewaan saya karena perform TTATW di event besar sebelumnya yaitu Sound Project Vol II yang tidak seatraktif biasanya karena problem teknis. Satu-satunya yang kurang dari penampilan TTATW kemarin adalah durasi yang sebentar, mungkin itu dipengaruhi oleh kejadian putusnya senar gitar Remedy Waloni di tengah-tengah perform. Drummer L’Alphalpha, yang menjadi pengganti Hetri yang berhalangan pun mampu tampil sama apiknya.

Setelah TTATW turun panggung, tiba giliran Bin Idris untuk unjuk gigi. Bin Idris mengubah panggung menjadi singgasana pribadinya, dengan sebilah gitar sebagai satu-satunya perlengkapan tempur dia untuk menguasai panggung aula utama ini. Bin Idris alias Haikal ‘Sigmun’ terbilang cukup beruntung, massa sudah membludak memenuhi aula utama karena jadwal tampil yang  tepat diantara nama-nama besar lain yaitu The Trees And The Wild dan Stars And Rabbit, dan tentunya Honne. Selain itu musik Bin Idris yang lumayan bikin kelopak mata layu (saking damainya) membuat saya harus memberi kredit pada panitia yang berani memberikan jadwal seperti itu. Dan satu lagi nilai plus Bin Idris, dia lumayan kocak saat di atas panggung, sehingga sebagian penonton yang dari awal terlihat bete terhibur melihat banyolan dia. Satu-satunya lagu Bin Idris yang saya hapal yaitu ‘Rebahan’ akhirnya dimainkan sebagai penutup, lebih dari cukup sebagai obat ngantuk selama hampir 45 menit yang terasa sangat panjang itu. Maafkan saya ya kang Haikal, saya teh ga hapal dan ga ngerti lagu akang :(

Lalu berlanjut ke penampilan Stars And Rabbit. Sebelumnya saya ingin berterima kasih pada panitia telah menaruh Stars And Rabbit di tempat yang terhormat dan seharusnya, menjadi opener Honne.  Sebagai penampil lokal terbaik pada malam itu, Stars And Rabbit menunjukkan kalau musik Indonesia bisa dan akan selalu menjadi tuan di negeri sendiri. Dengan kombinasi beat musik yang catchy dan vokal yang super outstanding dari Elda, Stars And Rabbit adalah wajah dari budaya Indonesia yang unik dan beragam, dengan sentuhan lirik bahasa Inggris yang berbobot. Nomor-nomor seperti ‘House’, ‘Rabbit Run’, ‘Like It Here’, serta dua nomor pamungkas yang selalu menjadi peledak emosi penonton yaitu ‘Worth It’ dan ‘Man Upon The Hill’, menjadi penutup malam yang indah itu. Elda tak pernah gagal untuk membuat penonton merinding saking emosionalnya dia dalam membawakan setiap nomor, terutama intro ‘Man Upon The Hill’ yang niscaya akan menggetarkan nurani setiap jiwa yang memijakkan raganya di sana. Suasana haru pun pecah saat Elda mengucapkan salam perpisahan kepada penonton, dan berkata betapa bahagianya dia melihat penonton yang begitu antusias dan girang menonton Stars And Rabbit walaupun dia pun tahu sebagian besar dari mereka sengaja datang lebih awal untuk mengamankan spot demi penampil selanjutnya, Honne.


dokumentasi pribadi

Kami harus menunggu hingga hampir sejam hanya untuk setting peralatan. Namun kaki pegal, banjir peluh dan semerbak ketiak basah itu terbayarkan tuntas oleh penampilan Honne yang luar biasa. Total 14 lagu dibawakan dengan rapi dan ciamik.  Sepanjang konser penonton dengan kompak menyanyikan semua lagu, meskipun hal menyebalkan yang biasa terjadi di Indonesia saat konser, hampir semua orang di frontrow mengacungkan gadget tinggi-tinggi demi kepentingan panjat sosial di sosmed masing-masing. Andy sebagai frontman pun cukup atraktif dalam menggiring antusiasme penonton, salah satunya dengan basa-basi klise ‘kami sayang kalian!!!’ yang langsung disambut dengan histeria semua kaum hawa disitu. Bagi saya yang pertama kali nonton konser band luar,  penampilan Honne kemarin memang sungguh jauh di atas ekspektasi. Semua orang bernyanyi, mengangkat tangan, berdansa, dan berteriak tanpa terkecuali. Di beberapa nomor seperti ‘Good Together’ dan ‘Warm on the Cold Night’, Honne menghentikan musik dan membiarkan crowd menyanyikan bait demi bait dengan lantang.  Saya yang cuma hafal 3 lagu(seperti paragraf atas) pun tetap terlarut dalam crowd yang heboh dan anarkis itu. Hingga penampilan sekitar 1 jam itu berakhir, dan malam minggu yang indah itu pun usai sudah.

Saya baru tiba di kostan jam 3 subuh dan langsung tertidur. Lalu tepat jam 8 pagi saya terbangun dan seketika terjebak fase post concert depression, menyadari bahwa konser semalam mustahil akan terulang kembali. Namun disaat bersamaan saya merasa bahagia, karena masalah-masalah yang membebani kepala saya sebelum berangkat konser seakan sirna walau sesaat, dan memang itulah tujuan saya pergi ke konser. Konser adalah salah satu obat terampuh untuk melupakan segudang masalah anda dengan teman, kampus, tugas, dll. Just leave it behind, and enjoy the fuckin show, mate. Thanks Music Gallery for that incredible night!





Review Album: Crimson Eyes by Sigmun(2015)

surnalisme.com

Ekspektasi tinggi terlanjur saya bumbungkan di pertunjukan unik ini. Gudang Sarinah, 25 November lalu menjadi saksi kolaborasi yang untuk pertama kalinya dimainkan di depan khalayak. Ya, Kelompok Penerbang Roket tampil berkolaborasi dengan band stoner rock asal Bandung yang sama-sama naik daun dari tahun lalu, Sigmun di acara Sound Project volume 2 yang diadakan Gundar.Namun entah memang salah kuping saya atau subjektivitas liar sesaat, tetapi saya merasa kolaborasi sabtu kemarin berakhir mengecewakan dan diluar ekspektasi. Bayangan yang sudah tak sabar membuah di kepala saya tentang kolaborasi apik kombinasi rusuh dan brutal  ditimpali dengan musik biang halusinasi ala-ala psikedelik ternyata urung jadi kenyataan. Yang terjadi adalah kebebasan tanpa arah Sigmun untuk mengeksplorasi karya-karya mereka, tanpa peran signifikan dari Kelompok Penerbang Roket yang (seharusnya) jadi keping puzzle pelengkap yang akan membakar panggung Sarinah.

Tapi baiklah, mari kita lupakan tentang kolaborasi itu. Sekarang kita  membahas album perdana Sigmun yang fenomenal tahun 2015 lalu, yaitu Crimson Eyes. Banyak teman yang request ke saya buat membahas album satu ini. Akhirnya saya mengalah dan akhirnya  mencoba menelaah satu album tersebut. Dan kesan pertama yang muncul adalah, lelah.  Bagi yang tak terbiasa melahap porsi rock stoner seperti Sigmun pasti akan kewalahan mengikuti tempo album ini. Begitupun saya yang kenal band ini lewat single nya Ozymandias saja atau  Land Of The Living Dead yang menjadi soundtrack game DreadOut. Wajar. di Indonesia yang mengusung genre semacam ini sepertinya memang jarang. Saya tak paham bagaimana, tapi mendengarkan album ini begitu membosankan, hingga pada putaran keempat dan kelima saya barulah bisa menikmati album ini.Vokal Haikal yang mengingatkan pada era kejayaan Robert Plant dan Led Zeppelin berhasil menjadi pembeda. Begitupun dengan riff-riff gitar yang terdengar sangat rumit dari lagu ke lagu.Dan benar seperti kata Haikal di wawancara dengan majalah musik ternama, mereka mengusung genre freudian blues rock,dimana pencatutan nama ilmuwan Sigmund Freud disini memang bermakna alam bawah sadar sebagai kontrol perilaku manusia. Musik adalah produk orisinil dari reaksi alam bawah sadar itu sendiri. Saya berani menjamin album ini adalah visualisasi teori Freud itu, dalam arti yang sebenarnya.  Saya tidak munafik, mendengarkan album ini dalam keadaan sadar bakalan kurang cihuy dibanding jika anda berada dalam 'right stuff'. Entah itu berupa lintingan yang dibakar lalu dihisap dengan syahdu atau prangko kecil yang dijilat seperti yang disinyalir dipraktekkan Awkarin di video terbarunya ‘Candu’. Strategi marketing yang sangat brilian memang.

(Disclaimer: Saya  hanya menyimpulkan dari apa kata orang tentang barang-barang itu. Plis, jangan berprasangka buruk)

Oke, balik ke Crimson Eyes. Setelah berkelana ke alam penuh nuansa gelap nan trippy tadi, saya mulai menelusuri lirik yang terkandung dalam album ini. Dan ternyata liriknya pun sama gelapnya, bahkan lebih mencekam dibanding musiknya. Halfglass of Poison misalnya. Track yang intronya sedikit mengingatkan kita dengan Bento-nya Iwan Fals ini diwarnai bait-bait yang rusuh dan ditimpali dengan reff penuh rebel  ‘just burn, burn them down’. Selain itu, The Summoning juga membuat saya bergidik dengan liriknya yang penuh kebencian. Menceritakan tentang sosok gelap yang bersemayam di tiap tubuh manusia dan siap untuk dibangunkan kapanpun oleh zat Yang Maha Angkuh, sang pemilik cahaya. Begitupun dengan sisa lagu yang rata-rata liriknya sama kompleksnya, yang membuat semua lagu Sigmun sulit dihapal.

lytmedia.com





Penantian penggemar selama tiga tahun ini akhirnya terbayar dengan album yang penuh kejutan ini. Tak hanya begitu gelap, kelam, dan sarat keputusasaan. Tapi juga tempo yang berubah-ubah menyesuaikan dengan flow pendengar. Transformasi pendewasaan Sigmun jika dibandingkan dari EP-EP sebelumnya juga patut diapresiasi, dan tak lupa vokal Haikal yang semakin berkarakter dari hari ke hari, membuat Sigmun haram hukumnya jika tak diperhitungkan di belantika musik independen nusantara. Akhir kata buat Sigmun, berkolaborasilah dengan band yang sama-sama bikin berimajinasi. Akhir kata buat pembaca, LSD itu haram. Terimakasih.

Review Film: Hacksaw Ridge(2016)

christian post

Film bertemakan perang dengan bumbu kisah nyata yang pilu didalamnya memang sudah umum diproduksi di ranah Hollywood. Termasuk untuk film berjudul Hacksaw Ridge ini. Film besutan Mel Gibson ini berlatarkan Perang Dunia 2 di kontinental Pasifik, antara Jepang melawan Sekutu. Jujur saja, satu-satunya daya tarik bagi saya untuk menyaksikan film ini adalah perkembangan akting dan wajah Andrew Garfield. Semenjak The Amazing Spiderman, saya masih terkejut dengan wajah Andrew yang awet remaja padahal umurnya sudah menginjak 30 tahun waktu itu. Termasuk pendalaman karakternya yang cenderung kekanak-kanakan itu. Bagaimana jadinya dengan perannya yang serius nan sakral di film heroik yang diangkat dari kisah nyata ini?

Hacksaw Ridge bercerita tentang kejadian seputar pertempuran di pengujung Perang Dunia 2 di wilayah Pasifik. Pertempuran itu meledak di pulau Okinawa, benteng terakhir Jepang di Pasifik dalam membendung gerakan pasukan Sekutu yang terus menggulung bagai ombak samudra. Dengan semangat tak takut mati, Jepang mengerahkan segenap tenaga untuk mempertahankan pulau itu dari serangan ratusan ribu pasukan Sekutu. Di sisi lain, Sekutu yang punya pasukan lebih besar dan armada lebih canggih dari Jepang pun tanpa lelah terus menggempur pulau itu dengan segenap daya. Lokasi pertempuran paling sengit dan berdarah-darah terletak di bukit Hacksaw dimana pasukan Sekutu yang berkali-kali berusaha mendaki untuk merebut bukit itu, berkali-kali pula dipukul mundur pasukan Jepang yang kesetanan. Ditengah hiruk pikuk pertempuran, seorang paramedis muda dan ceking bernama Desmond Doss(Andrew Garfield)  menerobos desingan peluru dan serpihan bom untuk menyelamatkan tubuh teman-temannya yang terluka. Mampukah Desmond menyelesaikan misinya ini, ataukah dia akan gagal bersama dengan tentara-tentara yang gugur dalam perang itu?


screen rant



Film perang rata-rata memang mempunyai ending yang klise, mudah ditebak. Pemeran utama selalu dicitrakan sebagai sosok heroik dengan segala atribut romantismenya. Namun di film ini yang membuat saya terkagum-kagum sampai sekarang adalah properti dan latar di seluruh film, begitu pas dengan suasana perang yang sesungguhnya.  Entah dari tone pakaian dan riasan setiap pemainnya, vibe langit di tengah perang yang begitu kelam, dan hal-hal paling kecil sekalipun seperti mobil, telepon, dan perlengkapan lain semuanya dipoles persis seperti apa yang kita baca di buku-buku tentang perang dunia 2. Semua hal itu membuat saya teralihkan dari fokus saya sebelum menonton film ini, yaitu melihat progress ‘pendewasaan’ seorang Andrew Garfield.  Dan, dia melakukannya dengan baik. Dia mampu memerankan dengan baik seorang Desmond, bocah kurus yang menjadi korban bully teman-temannya selama pelatihan wajib militer yan kemudian mampu keluar sebagai sosok pahlawan yang tak diduga-diduga. Klise memang, tapi eksekusi yang mulus serta sinematografi yang baik membuat kita melupakan sisi minor  film ini. Penderitaan yang  menjadi ironi dari semua peperangan di muka bumi ini digambarkan dengan begitu syahdu, detail bagaimana baik pasukan Sekutu dan pasukan Jepang yang sama-sama haus darah ingin segera menghabisi lawannya sesegera mungkin, namun disisi lain mereka sama-sama menanggung penderitaan yang tak berujung. Melihat teman disampingnya gugur ditembus peluru kasar manusia-manusia polos yang dikendalikan ambisi dan ego tak berujung pemimpinnya untuk menandingi kebesaran Tuhan di muka bumi. Semua digambarkan dengan begitu baik dan menyentuh. Hubungan penuh kerikil tajam antara Desmond dan Dorothy pun digulirkan dengan ringan di sepanjang film tanpa mengganggu kerangka utama film. Racikan pas untuk sebuah film perang berkedok motivasi yang diangkat dari kisah nyata ini. Selamat menyaksikan!

Review Album: Popestar by Ghost(2016)






Jujur saja, pengetahuan saya soal metal-metalan adalah nol besar, sama seperti EDM(jika EDM termasuk genre musik). Seperti sebagian besar anak generasi 2010 keatas, perkenalan saya dengan musik metal atau hard rock dimulai dari euforia Avenged Sevenfold di kalangan anak sekolah ketika itu. A7X benar-benar membuat musik gedebag gedebug ini begitu ramah di anak Indonesia mulai dari SD sampai SMA. Semua anak berlomba-lomba memenuhi playlist di handphonenya dengan lagu-lagu A7X dari album City Of Evil dan seterusnya. Mereka juga menjadi rajin menabung untuk menonton konser A7X yang cukup sering hadir ke Indonesia waktu itu. 

Selain A7X, saya pun sempat mengikuti perkembangan band metal beken lainnya seperti Slipknot. Namun itu pun tak berlangsung lama sampai saya menemukan band metal baru yang tampilannya sangat mencolok seperti Slipknot. Band ini terdiri dari lima instrumentalis dengan topeng dan pakaian yang identik serta seorang vokalis bernama Papa Emeritus yang berpenampilan menyerupai Paus dari Vatikan, dengan versi yang menyeramkan. Mayoritas lirik lagu dari band ini dengan gamblang menggambarkan pemujaan terhadap setan. Terkejut? Anda tidak akan seterkejut itu jika mengetahui asal band ini yaitu dari Swedia, bagian Skandinavia yang merupakan tanah lahirnya band-band yang agak ‘menyimpang'. Yap, band ini bernama Ghost. Bagi yang menonton Grammy Award 2016, setidaknya pernah mendengar nama ini. Jelas, Ghost memenangkan penghargaan Penampilan Metal Terbaik untuk lagu Cirice. Sebuah penghargaan yang tidak buruk buruk amat untuk band sekelas Ghost, yang mana A7X dan Slipknot bahkan tak pernah memenangkan satupun Grammy Award sepanjang karirnya. Nah setelah ulasan diatas tentang keterbatasan pengetahuan saya tentang metal, review band metal kali ini mungkin akan menjadi review terjujur yang pernah saya tulis.



Jadi, 16 September 2016 lalu Ghost merilis EP terbarunya berjudul Popestar. Popestar ini tidak berdiri sendiri, melainkan sebagai perpanjangan dari album ketiga Ghost yaitu Meliora. Sekaligus juga merupakan peresmian untuk tur dunia tambahan mereka sebagai tindak lanjut dari Tur Meliora yang sukses besar. Popestar ini terdiri dari lima lagu dengan single pertamanya yang dirilis lebih dahulu berjudul ‘Square Hammer’. Lagu yang sangat ear catching, dengan intro yang kuat. Namun, jika dibandingkan dengan album pertama yaitu Opus Eponymous, Ghost mulai kehilangan sentuhan untuk membuat intro-intro yang membangun atmosfer creepy. Terbukti dari lagu ‘Square Hammer’ ini maupun keempat lagu sisanya. Namun untuk pendengar pemula, saya sangat merekomendasikan ‘Square Hammer’ ini, bersama ‘Cirice’ sebagai lagu Ghost yang paling ‘ramah’ di telinga pemula. Lalu lanjut ke lagu ke dua yaitu ‘Nocturnal Me’. Lagu yang paling lemah dalam EP ini, kita bisa dengan mudah melupakan lagu ini, bersama dengan lagu selanjutnya yaitu ‘I Believe’. Namun dari ‘I Believe’ kita bisa mendengar perubahan mendasar dari Ghost. Lagu ini bertempo lambat dengan iringan ornamen khas seperti kecapi kalau di Sunda. Mungkin saja ini bisa memberikan gambaran bagi kita untuk album keempat Ghost yang rencananya akan dirilis tahun depan. Lalu lanjut ke lagu ‘Missionary Man’ yang sangat funky dan mengasyikkan dengan pengaruh rock n roll yang cukup kental. Jarang jarang Ghost membuat lagu yang seperti ini. Begitupun dengan lagu terakhir yaitu Bible yang dengan sempurna menutup EP ini. Vokal Papa Emeritus III juga sangat prima di lagu ini. Namun begitu, saya menangkap perubahan warna vokal Papa di EP ini, dibanding ketiga album full sebelumnya yang cenderung memiliki warna vokal yang sama. Apakah mereka ganti vokalis di EP Popestar ini? Atau hanya sekedar efek studio? Entahlah, dengan sifat mereka yang penuh rahasia, kita hanya bisa menerka-nerka.





Secara keseluruhan, EP Popestar ini lumayan baik, walaupun tidak sedahsyat Meliora maupun kedua album sebelumnya. Dahsyat disini bermakna literal loh ya. Karena menurut saya ketiga album ini benar-benar memuaskan, dalam artian tidak ada satu lagu pun di ketiga album itu yang gagal memikat hati saya. Saya sendiri heran, kok musik yang seakan datang dari dunia kegelapan bisa seindah ini ya? Mungkin tuah Lucifer Agung sang pemilik cahaya memang nyata dan terbukti bahwa dia juga pencinta musik sejati. Begitupun dengan EP pertama berjudul If You Have Ghosts yang juga pure gold, menurut saya. Tidak heran apabila mereka diganjar Grammy Award untuk lagu Cirice di album Meliora. Itu pun setelah Meliora dinilai lebih mudah diterima pendengar di Amerika karena unsur satanis yang sedikit memudar dibanding kedua album sebelumnya. Saya berharap band ini terus berkarya dengan idealismenya untuk berpegang teguh di jalur okultisme ini tetap terjaga.Biarlah topeng yang menyembunyikan sosok manusia dibalik band ini tetap menjadi misteri, karena hanya karyalah yang akan hidup abadi. 20-30 tahun yang akan datang  semua orang akan membicarakan tentang band ini, dan Ghost akan resmi menjadi legenda musik yang akan dikenang umat manusia.

Review Album: Zaman, Zaman by The Trees And The Wild(2016)


Dulu kita pernah terkagum-kagum dengan pesona elok dari album debut fenomenal ini. Bertahun-tahun kita  mencandu album itu, merasakan daya magis gemerlap dari band asal Bekasi ini. Namun, mau tak mau segala pesona itu mulai memudar ditelan waktu yang terus mengabur. Semakin sering diputar daya magis itu makin meredup, seiring dengan mulai jarangnya mereka tampil di publik. Kekecewaan dan keinginan yang tak lelah terngiang di udara mengharap album kedua, namun band ini tak jua bergeming. Sampai beberapa tahun kemudian mereka merilis EP, hasrat para penggemar sama sekali tak pernah terpuaskan. Pun dengan mulai aktifnya mereka kembali ke panggung. Tanda-tanda untuk membuat rilisan selanjutnya semakin terhalang tabir hitam, hingga penggemar putus asa dan mulai menganggap band ini hanya angin lalu. Album Rasuk dinilai sebatas one hit wonder, yang pada akhirnya akan lapuk terkikis debu dan sarang laba-laba di lemari kumuh para kolektor barang antik.



cover album Rasuk

Sebuah kebetulan ketika beberapa tahun terakhir band ini kembali rajin manggung, menggunakan formasi baru, dengan nafas yang baru tentunya. Perlahan demi perlahan harapan itu kembali dirajut, dengan puncaknya di tahun ini ketika mereka diundang tampil di event-event besar seperti WTF 16 dan lainnya. Rupanya semesta yang licik telah berkonspirasi untuk mempertemukan asa penggemar dengan hasrat band ini untuk merilis album barunya. Sekitar beberapa minggu lalu, band bernama The Trees And The Wild ini resmi mengumumkan akan merilis album kedua berjudul Zaman, Zaman pada 16 September 2016, tepat tujuh tahun setelah perilisan album debut berjudul Rasuk. Rentang waktu yang cukup lama untuk membuat kita terharu melihat band ini masih eksis dan berkarya. Band yang tak bosan dinaungi langit yang keruh oleh harapan naif penggemar yang ingin agar mereka menciptakan Rasuk 2.0. Kenyataannya, tujuh tahun cukup untuk membuat The Trees And The Wild bertransformasi dari band yang memainkan musik folk yang catchy menjadi pengusung musik distorsi yang cenderung mengarah ke post rock. Benarkah itu? Mari kita tengok album Zaman, Zaman ini.


tampak depan album

Perilisan album baru ini didahului oleh single pertama Zaman, Zaman. Lalu disambung oleh single selanjutnya Empati Tamako dan Srangan. Zaman, Zaman sendiri berperan sebagai gerbang pembuka menuju album yang bernuansa gelap ini. Sebuah track yang menghipnotis, membawa kita seakan terbang menuju sisi lain dunia yang asing namun begitu nyaman. Suara bising yang berperan sebagai fondasi bagi keseluruhan lagu terdengar sangat natural, seolah-olah merupakan visualisasi emosi alam raya ini. Di beberapa lagu  vokal Charita Utami yang berkarakter membuat album ini semakin berwarna, seperti di Empati Tamako. Sebuah simfoni selama 14 menit yang membuat kita berlayar ke ujung terjauh di dunia ini, menikmati alam raya yang ikut mendayung bersama kita. Sesuai dengan lirik di lagu ini,’kesedihanmu akan pergi terhempas angin selatan, yang penuh debu, terbawa sampai ufuk timur terjauh’. Transisi antara satu lagu ke lagu yang lain juga begitu mulus. Contohnya adalah lagu Srangan dan Roulements yang berperan sebagai jembatan dengan durasi yang singkat namun tetap menawan. Sisa lagu kebelakangnya seperti Monumen dan Tuah Sebak memiliki tempo sedikit upbeat yang kemudian ditutup dengan  sempurna oleh Saija yang berkarakter kuat dan tepat untuk menyudahi perjalanan dimensional kita menyelami kemegahan Zaman, Zaman.

Satu kata untuk Zaman, Zaman, memuaskan! Penantian selama tujuh tahun untuk album ini terbayarkan sudah. Perubahan genre yang lumayan drastis tidak menyurutkan kemampuan band ini untuk meracik lagu yang berkualitas.  Zaman, Zaman membawa kita berjelajah ke alam lain yang tak akan terjamah oleh apapun. Daya magis Zaman, Zaman wajib diacungi dua jempol, sama seperti pendahulunya Rasuk. Dan dengan hadirnya Zaman, Zaman kita akan menemukan perbedaan mendasar antara keduanya yang membuat mereka sama-sama dahsyat. Karena Rasuk dan Zaman, Zaman adalah dua sisi tongkat sihir dari The Trees And The Wild yang sama-sama punya kekuatan untuk menyihir telinga dan menyulap kita menjadi penjelajah alam dan waktu multidimensi.




Review Film: Don't Breathe(2016)


Pernahkah di masa kecil anda sewaktu malam, terjebak dalam mimpi buruk sendiri? Berada dalam suatu rumah yang terasa asing bagi anda? Sebuah rumah yang muram, mencekam, dipenuhi lorong lorong tak berujung dan dinding rapuh yang terbisu.  Dan di saat anda sedang berkelit dari ketakutan akan rumah tersebut, ternyata ada bahaya yang lebih mengancam dari rumah itu, yaitu penghuni psikopat yang siap meneror siapa saja yang memasuki rumahnya tanpa izin.


Semua rasa takut yang hanya tersetting di kepala ini bisa kita rasakan secara nyata dalam sebuah film thriller action berjudul Don’t Breathe. Bukan, ini bukan cerita kebangkitan Freddy Krueger yang merealisasikan teror alam mimpi anda. Film ini berkisah tentang tiga maling amatiran yang menjadikan rumah berpenghuni seorang kakek veteran perang Amerika yang sudah buta bernama Norman(Stephen Lang) sebagai target mereka. Operasi pembobolan rumah yang diperkirakan akan mudah justru berubah menjadi ajang pembantaian seorang kakek yang tidak akan membiarkan ketiga maling itu keluar rumah hidup hidup. Di samping permainan petak umpet berdarah selama 88 menit, ternyata ada rahasia terselubung dibalik semua yang tak sengaja terungkap oleh komplotan maling itu.



Sesuai dengan  judul, Don’t Breathe benar-benar memberikan sedikit ruang dan waktu buat kita bernapas. Intensitas yang ditumpahkan sepanjang film memaksa adrenalin kita terus terpacu,dengan terus mencengkeram kursi bioskop, menerka-nerka apa yang selanjutnya terjadi. Menebak apa lagi yang akan dilakukan si kakek buta dengan segala intrik di dalam rumah itu. Dan asa yang semakin memudar bagi si maling untuk dapat kabur dengan selamat dari situ. Semua kegilaan yang terangkum dalam satu setengah jam thriller yang tak hanya membuat kita sesak napas mengikuti irama filmnya, tapi juga membuat kita tersenyum bahagia saat keluar bioskop. Sebuah paket lengkap  film horror bagus yang seharusnya memang seperti itu. Akting yang ditampilkan setiap pemeran juga sangat total dan on point. Tergambar jelas dari bagaimana setiap pemainnya menghadapi maut yang terus mengintai, dan di satu scene ketika penerangan rumah dipadamkan, setiap aktor benar-benar melakukan semuanya di kegelapan, terlihat dari mimik yang gelisah serta pupil mata yang membesar. Di awal film sang sutradara, Fede Alvarez dengan jenius membawa penonton mengira bahwa sosok yang menjadi antagonis film adalah sebuah makhluk tak kasat mata. Nyatanya, hanya butuh seorang lansia cacat  untuk bisa menciptakan teror yang efektif.  Tidak perlu obral penampakan setan untuk menimbulkan kengerian yang berlebih. Dengan formula itulah, Don’t Breathe menciptakan kegilaannya untuk meledakkan kepala seisi bioskop. Saya bahkan tak ingat kapan terakhir kali saya menonton film horor segirang ini, The Conjuring 2 pun tidak.

Liputan Konser A Create Gudang Sarinah 17/04/2016



whiteboardjurnal.com

Langit sedang masygul pada hari itu . Dia tak lelah memuntahkan hujan yang tampa ampun menkonfrontansi atap Gudang Sarinah yang sudah dirapuh usia. Atap berderak menimbulkan gemericik hebat yang menyertai jalannya konser di Gudang Sarinah sepanjang hari itu. Meskipun begitu, energi yang bekerja bagai aliran listrik terus membakar semua elemen  yang ada di ruangan, tanpa lelah memompa adrenalin penonton dan penampil hingga klimaks keseruan tertumpahkan dengan hebat.

17 April 2016, konser yang merupakan rangkaian tur dari Go Ahead People bertajuk A Create ini menampilkan deretan musisi yang sedang panas-panasnya saat itu, seperti Barasuara, Kelompok Penerbang Roket,  dan Danilla. Selain itu tampil pula musisi-musisi pertengahan 2000-an yang sedang kembali bergairah belakangan ini seperti The Adams dan Goodnight Electric dan band yang sudah tak diragukan lagi kiprahnya di kancah musik nusantara yaitu White Shoes dan The Upstairs.

Hujan yang mengguyur dari siang hari tak menghalangi antusiasme penonton untuk datang ke Gudang Sarinah. Jam dua siang puluhan penonton sudah menunggu di luar, menunggu gerbang yang seharusnya dibuka saat itu. Gerbang baru dibuka sejam setelahnya. Di dalam ruangan tersaji berbagai macam pameran dan hiburan, beberapa diantaranya adalah lukisan mural, ruangan yang didesain khusus buat spot foto pengunjung, dan pameran foto dari fotografer terkenal. Namun, fokus semua hadirin tentu hanya pada band-band yang akan menyemarakkan panggung Sarinah nantinya.

Pertama kali tampil adalah band alternatif rock bernama Scaller. Band yang terdiri dari duet sejoli Stella Gareth dan Reney Karamoy dan dibantu oleh seorang drummer tambahan tampil mengejutkan sore itu. Dengan lagu-lagunya yang mayoritas bertempo upbeat, Scaller berhasil mencuri hati khalayak.  Mereka membawakan seluruh lagu dengan set yang rapi, dan Stella yang mampu menjaga vokal uniknya tetap stabil dan penuh energi hingga akhir set.

Selang tidak terlalu lama, giliran White Shoes And The Couples Company menunjukkan kebolehannya. Kesan vintage begitu terasa ketika mereka naik ke atas panggung. Aprilia Apsari sang frontman sekaligus dirigen permainan WSATCC begitu lincah membawakan bait demi bait sembari meliuk gemulai menyesuaikan dengan irama. Penonton pun kompak menyanyikan lagu-lagu WSATCC yang sudah akrab di telinga.

Setelah WSATCC turun panggung, tibalah giliran si manis Danilla untuk tampil. Kali ini dia membawa serta pianis yang juga mantan personel Sore yaitu Mondo Gascaro, yang sebelumnya pernah berkolaborasi dengannya di beberapa festival, termasuk Music Gallery beberapa bulan lalu. Pemandangan menarik langsung tersaji saat keduanya menaiki arena panggung dengan pakaian Kimono khas Jepang. Tembang-tembang andalan dari album Telisik pun dimainkan, diiringi penampilan live band. Selain itu mereka juga membawakan cover dari lagu musisi luar negeri. Sayangnya, Danilla tampak kurang maksimal sore itu karena dia sedang flu, sehingga set dia kurang lama dibanding penampil-penampil 
sebelumnya.
www.imgrum.net

Selepas penampilan Danilla dan kolega, adzan Magrib berkumandang sehingga diberlakukan break sampai adzan Isya. Di sela-sela istirahat itu, ada satu penampilan kejutan dari sebuah band bernama Fourtwnty, yang bahkan namanya di flyer acara itu pun tidak ada. Namun begitu, Fourtwnty segera sigap untuk mengajak penonton kembali ke ruangan utama konser untuk menikmati sajian pop folk ala mereka. Penampilan Fourtwnty memang sangat membius. Terutama Ari Lesmana sang vokalis yang berpakaian nyentrik dan begitu temaram menenggelamkan diri bersama lagu-lagu yang dibawakannya dengan syahdu.

Selepas Fourtwnty turun panggung,giliran The Adams yang tampil. Band power pop legendaris Jakarta ini benar-benar membawa romansa nostalgia pertengahan 2000-an bagi penonton. Tembang-tembang sarat kenangan seperti Konservatif, Hanya Kau, dan Jikalau dibawakan secara apik diiringi koor penonton yang sebagian besar sudah hafal lagu-lagu The Adams. Ario, sang vokalis berkata bahwa tahun ini The Adams bakal lebih sering tampil  dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya satu dua kali tampil dalam setahun. Bisa jadi ini merupakan pertanda angin segar bagi The Adams untuk merilis follow up album yang terakhir kali diluncurkan tahun 2007 lalu.



irockumentary.com


Selepas bermesraan dengan nostalgia ala The Adams, trio rebel Kelompok Penerbang Roket naik ke atas panggung untuk mempertontonkan keganasannya. Band rock ini langsung mengentak seisi ruangan dengan pekikan menusuk relung, dentuman dan raungan instrumen yang berpadu menghajar seisi Gudang Sarinah. Penampilan liar Coki dkk di atas panggung mendorong penonton untuk membuat mosh pit di tengah crowd. Beberapa orang  lainnya melakukan crowdsurfing disana. Hal ini memaksa penonton perempuan didorong ke baris terdepan agar tercegah dari amuk mosh pit penonton yang sudah terlanjur tak terkendali. Agak lucu melihat penampilan band segahar Kelompok Penerbang Roket disesaki oleh penonton wanita di barisan terdepan crowd. Tapi hal itu memang terjadi. Salah satu teman menjadi tameng penonton wanita dengan mencegah ayunan kaki-kaki orang yang sedang crowdsurfing atau dorongan mosh pit dibelakangnya. Penampilan KPR memang yang terbaik malam itu. Energi yang mereka tularkan bertransformasi sempurna menjadi bara dan lentera  yang memiliki efek magis bagi penonton untuk penampil selanjutnya: Barasuara.



dokumentasi pribadi


Barasuara seperti biasa tampil dengan penuh tenaga. Si lincah Gerald Situmorang terus memompa tempo lagu dengan cabikan bassnya. Begitupun dengan sang drummer, Marco Steffiano yang dibantu adiknya Enrico yang sama-sama menabuh drum. Formasi inilah yang dibawa Barasuara sampai ke tur konser Taifun bulan Juni lalu. Lagu-lagu dari album debut Taifun yang fenomenal sudah dihafal dengan baik oleh mayoritas penonton yang hadir. Setiap lagu yang dibawakan diiringi koor lantang penonton sembari terus dikompori oleh Iga Massardi sang frontman Barasuara, ‘Kami adalah kalian, kalian adalah kami, kalian semua adalah Barasuara!’.

Penampilan malam itu ditutup oleh The Upstairs yang berkolaborasi dengan Goodnight Electric. Duet band yang sama-sama sudah tersohor jauh sebelum suksesor-suksesorny bermekaran beberapa tahun belakangan. Bedanya, The Upstairs merajai  kancah dalam negeri, sementara Goodnight Electric lebih dikenal di luar negeri. Kolaborasi mereka ini cukup menghibur, dimotori oleh Jimi Multhazam yang meskipun tua tapi tetap mempertahankan gimmick khasnya yang jenaka sekaligus energik di atas panggung. Trio Goodnight Electric pun tak mau kalah dengan membawakan lagu-lagu dari album lawasnya dengan sokongan synthesizer yang mendominasi.



dokumentasi pribadi

Seiring dengan berakhirnya kolaborasi The Upstairs dan Goodnight Electricnya, maka selesai juga konser A Create kali ini. Jarang sekali band band indepedent lintas generasi seperti ini dikumpulkan dan membuat pecah Gudang Sarinah. Pun dengan tiket masuk yang tak dipungut biaya serupiah pun. Sungguh merupakan kenikmatan yang hakiki bagi penonton haus hiburan indie di akhir pekan. Semoga keseruan keseruan seperti ini dapat terus dilestarikan hingga sisa hayat bermukim di badan.