Whenever Death Snatch Us


Entahlah, gue nggak paham kenapa seseorang bisa tiba-tiba jatuh secara telak setelah terbang dan bermimpi terlalu tinggi.

Kemarin, gue dikejutkan dengan berita duka. Ibunya temen gue, Malna, menghadap sang Maha Kuasa, ketika dia lagi asik-asiknya main poker bareng gue dan temen-temen yang lain. Well, ini sesuatu banget.
Dan, tiba-tiba saja gue jadi teringat memori kelam beberapa tahun yang lalu, ketika gue lagi asik-asiknya main Empire Earth jam 11 malem, seketika itu juga telpon berdering. Karena gue tahu saat itu udah jam 11 malem, gak mungkin lah jam segituan ada yang niat banget nelpon, pastilah itu sesuatu yang sangat sangat penting.

Lalu, gue pun angkat gagang telepon.

Gue mengawali pembicaraan dengan bilang, ‘Halo, assalamualaikum?’

‘Dek, cepetan bilang ke Bapak, Pakde Mardi meninggal.’, seketika suara itu menerjang gue bagai petir di siang bolong. Itu adalah suara kakak gue.

Sejenak, ada keheningan yang panjang.

‘Ta..tapi, bapak lagi tidur, ibu juga.’ Gue menjawab di gagang telepon dengan nada bergetar.

‘Udah..bangunin aja.’ Kakak gue setengah memaksa.

Seketika, gue tutup gagang telepon. Gue pun bergegas menuju kamar ortu gue.
Gue pun membangunkan keduanya. Dengan berat hati, karena gue tahu mereka baru saja pulang dari bepergian, dan itu pasti sangat melelahkan.

Pakde Mardi adalah kakak dari bapak gue. Makanya, ini menjadi semacam berita horror bagi gue, yang lagi asik-asiknya begadang main Empire Earth. Apalagi, beliau sedang dinas di luar kota, dan tentu saja itu berita yang sangat surprising. 

Lalu, ibu pun bangun terlebih dahulu. Dengan nada agak panik, beliau segera bangkit dan bertanya,’Ada apa dek? Malem-malem gini?’
‘Pak De Mardi meninggal.’ Gue bilang apa adanya.

Lalu singkat kata, kedua orangtua gue pun tahu, dan dengan sesegera mungkin kami bergegas pergi kesana, disaat waktu menunjukkan pukul 1 malam.

Suasana pun hening. Kami tenggelam dalam lamunan kami masing-masing. Lamunan tentang kematian. Kematian yang begitu dekat. Kematian yang bisa merenggut satu per satu dari kami, kapanpun. 

Gue nggak berniat untuk memperpanjang tulisan ini. Terkadang, kematian seseorang, siapapun itu, entah teman dekat atau teman dekatnya teman dekat, selalu memperingati alam bawah sadar kita, bahwa mati itu ada, dan dia begitu dekat.

Dekat, seperti bayangan. Dan, gue gak tahu bagaimanakah bayangan gue kelak, saat bayangan itu merenggut gue dan satu persatu keluarga gue dengan perlahan.

Gue masih berduka dengan meninggalnya salah satu ibu temen gue ini. Dan, walaupun yang meninggal itu orang lain, tetap saja gue harus bersiap dari sekarang, karena siapa tahu besok, atau sekarang juga bapak atau ibu gue meninggal, atau mungkin gue yang mendahului mereka.

Yap, mati selalu mengikuti kita. Seperti yang tadi gue katakan, seperti bayangan. Tapi, hidup harus tetap berjalan seperti biasa. 

 Life must go on, whenever shadow will snatch it.

Next Post :
Daily Life Again

0 komentar: