Showing posts with label Lalalala... Show all posts
Showing posts with label Lalalala... Show all posts

Dan, inilah saatnya perjalanan pulang ke Bandung dengan hati yang riang gembira dan  penuh sukacita(pulang-pulang jadi om senang deh, red). Kami kembali ke pelabuhan gilimanuk pakai feri, dan disanalah aku mendengar Mutiara pop dangdut, dangdut yang dibawakan oleh titisan Agung Hercules setelah disunat sampe abis. Buset dah emang, mukanya mirip banget doi, cuma rambutnya tergerai berkilauan abis pake sampo Pentin kali yah? Kemayu lagi gaya nyanyinya.

  
Oh, salah foto, harusnya ini...

Jadi, pas di hotel itu, pertama yang saya bayangkan tentang hotel ini adalah apa yang bakal dilakukan 5 cowok jika bersama-sama nginep di satu kamar. Mungkin bakal jauh lebih buruk daripada cewek yang bersama-sama nginep di satu kamar, seperti tidur dengan menutup kedua mata pake beha, menggantungkan celana dalam di gagang pintu, dan lain-lain. Dan, hipotesis saya buat cowok ini sementara waktu terbukti. Mulai dari bau toilet yang campur baur antara berak dan pipis itu, lantai yang becek, dan kondisi kamar yang sungguh kacau. 


Sajen yang sudah dimakanin burung jalak(bener ga sih burung jalak?)


Komplit deh. Saya sendiri? Saya menjemur semua pakaian dalam saya di teras kamar. Jenius.


 Monumen GWK(btw, tangannya masih disimpen di taman luar monumen ini, sedih ya.)


Beberapa peristiwa menarik lagi, antara lain candlelight dinner yang berakhir dengan 3 porsi makanan yang saya habiskan (terima kasih Kiblat dan Assa!), menang tarik tambang dan lampion bareng kelas, dan ber-dangdut koplo-ria bareng penyanyi dangdut yang seksih abis pas di suatu rumah makan. Pol abis daah. Selain itu tidak lupa juga pas malam keakraban, saat sesi curhat dan



 Kemana-mana doi selalu pake ini. Gaul max bro!


kebodohan-kebodohan Faisal saat jadi MC.

Tapi, ada beberapa tempat yang menurut 
saya not recommended to visit, seperti Tanah Lot(percaya deh, walau ombak dan viewnya bagus, ga boleh dipake renang), toko Krisna(bagi jiwa lelaki seperti saya yang gak suka belanja, tempat ini seperti neraka), dan Kintamani(dingin banget, dan yang paling utama, bulenya dikit. Huhuhuhu).

Next post:
Study Tour 2013 -Bali!!!- Part III habis




                                                                                                                  

                                                                                                                

Minggu lalu, saya menikmati perjalanan panjang dalam Study Tour ke Bali yang diadakan sekolah saya.Makanya selama seminggu ini saya gak ngepost apa-apa disini. Eventually, I'm here and I'm not dead. Hehehehe.


Gak ada kerjaan, foto langit2 bis.

Karena saya bakal menghadapi perjalanan panjang, saya menyiapkan perbekalan ekstra (MP3, makanan instan, dll) untuk itu(FYI, 2 hari sebelum nyampe Bali). Selama di perjalanan pula, saya menonton beberapa film, diantaranya 3AM(film horor Thailand), REC(film zombie Spanyol), dan Wreck It Ralph(film animasi Hollywood).  Tapi yang paling berkesan ya pas 3AM. Film dengan format yang gak jauh beda dengan film 4BIA, tentu dengan jalan cerita yang mengagumkan dan gak  ada unsur porno2nya. Worth it banget laah. Coba aja tonton sendiri.




Foto WC kapal feri menuju Bali, agak janggal yah..

Tur kali ini benar-benar padat.Gak ada waktu, bahkan buat nonton  Mata Lelaki di trans7 itu loh.Beberapa tempat terkenal yang saya kunjungi yaitu Pasar Sukowati, toko Krisna, Tanah Lot, Tanjung Benoa, danKuta pastinya (Hell yeah bule!!).Yoi, karena tujuan utama saya kesini adalah mencari dan melihat kumpulan bule sexy dengan mata kepala sendiri(oke deh).

Untuk melengkapi postingan kali ini, saya menulis puisi garing ini khusus buat kalian yang ngebela-belain baca nih postingan. Enjoy!!


Puisi Turbud


Aroma pantai dan senja begitu menggelitik

Dimana aku disini menanti kalian
Harap dan doa kugantung setinggi angkasa
Sampai kapan aku bisa mencium bumi Bali

Dan tiba saatnya untuk kamu, hei Bali

Turbud 2013 datang untuk kamu, pantai dan senja
Dalam waktu 2 hari, kami akan tiba
Sambutlah kami dengan sebaik-baiknya, hei pantai dan senja

Tanjung Benoa, pantai sejuta hiburan

Ketika semua kenikmatan bercampur menjadi satu
Pantai Kuta, pesona surga dunia
Saat daratan mencium lautan dengan begitu menggodanya

Kintamani, daratan nan eksotis

Ketika hawa pegunungan bercumbu dengan pesona budaya Bali
Tanah Lot, senja menggila
Saat mata terbuai dengan senjamu yang aduhai

Dan sekarang, saatnya untuk kembali ke rumah

Kabarkan segala tentang kalian pada keluarga
Untuk pertama dan yang terakhir
Terima kasih Turbud 2013 atas semuanya!

Berlanjut ke Part II




Kemarin adalah hari ulangtahun SBY yang ke 63. Widiih…udah tua juga ya? Nah, sebagai evaluasi, apa yang sudah kita dapatkan dari kepemimpinan beliau selama kurang lebih 8 tahun? Tapi, sebelum itu kita kasih kado dulu yu!

1.       Seperangkat ember

Untuk membangunkan para anggota dewan yang doyan molor saat sidang, biar Bapak kagak usah marah-marah lagi yaa, kasian kan cepet tua(emang udah tua kali ya?)


2.       Alat penyadap BBM

Ini buat bawahan bapak yang doyan korup, BBM adalah media yang paling seru, selain telepon. Ingat Angelina Sondakh? Doi walau ngakunya ga punya BB, tapi terbukti doi melakukan transaksi terlarang melalui BBM. Ntar kami juga buatin penyadap Line, Instagram, dll.


Fakta memang tak pernah berbohong, beda sama Angie



3.       Gitar baru, dan kacamata cengteng

Ini sangat membantu bapak buat pembikinan album baru (keempat ya?). Jadi bapak kan enak, kipas-kipas abis sidang, bikin lagu terus ngegitar, plus kacamata item cengteng (goceng ganteng), macem John Mayer gitu.

SBY and the Century's robber


4.       Layanan Gratis Klinik Tong Fang

Lumayan lho! Dengan layanan gratis full 1 tahun plus jaminan uang kembali, Bapak tidak akan jadi seperti bawahan-bawahan Bapak, yang gampangan kena sindrom ‘Lupa’, saat terjerat hukum. Jadi, dengan klinik Tong Fang bapak bisa terbebas dari penyakit lupa, stress, ngantuk berlebih, kurang bijak, dll. Gratiss!!


Salah satu  lulusan Tong Fang

5.       Alat pendeteksi bom

Kemarin pas Bapak lagi kunjungan ke luar negeri, bapak dapat telepon dari Indonesia. Pertama, ‘Selamat Ulang Tahun ya Pak!!’, lalu dilanjutkan dengan, ‘Pak, ada serangan bom (lagi) di Depok, Pak!!’. Kan gak enak banget tuh. Ada dua kabar berbanding terbalik dalam waktu yang bersamaan.  Ntar kalo yang jauh lebih parah lagi gimana Pak, seperti misalnya ‘Pak, selamat anak bapak, Ibas jadi presiden!!’ lalu dilanjutkan dengan sambungan lain, ‘Pak, ternyata yang jadi presiden bukan Ibas anak Bapak! Itu mah Ibas anak pedagang majalah porno di seberang gang, Pak!!"

Makanya, alat pendeteksi bom dini menjadi sangatlah penting bagi Pak presiden. 


Eh salah gambar ding,
ini mah 'bom' dalam definisi lain.


Yap, sekian saja tentang postingan #KadoUntukPresiden yang ngaco ini. Semoga bermanfaat, and see you on next post!



6.        


Mate, pemilukada Jakarta bentar lagi kelar nih! Bagaimana pilihan teman-teman? Fauzi Bowo-kah, Jokowi kah? Siapapun itu, saya akan menyiapkan panduan super dalam memilih calon gubernur yang pas menghadapi pemilukada kali ini. Checkidot broow.


1. Fauzi Bowo

Masih ingatkah sosok berkumis tebal yang selalu mengingatkan kita pada ikan lele di empang ini? Oke, lupakan. Fauzi Bowo ini adalah cagub yang berusaha mempretahankan jabatannya sebagai gubernur DKI selama periode 2007-2012 ini. Nah, sosok yang selalu tersenyum ini memiliki visi dan misi yang tak jauh beda dibanding apa yang dia lakukan di pilgub sebelumnya. Dulu kan, dia pake semboyannya yang terkenal, yaitu ‘Coblos Kumisnya!’, sekarang sudah tidak lagi. Mungkin, sekarang mah semboyannya ‘Coblos Putingnya!’ kali yah. Hehehehe. Eh, bentar dulu. Ini pilgub apa mau nindik tete?


PS: Sekarang, semboyannya Pak Foke adalah ‘Berpengalaman dan Mengerti Jakarta’. Baru liat tadi di iklan.

# Keunggulan
Fauzi Bowo ini sudah cukup berpengalaman dalam mengasuh kota Jakarta. Pengalamannya selama 5 tahun, saya kira sudah cukup untuk memajukan kota Jakarta. Program-programnya pun menarik. Salah satunya yaitu program menggratiskan biaya kesehatan, itu loh si ibu-ibu yang suka nampang di iklan TV itu. Selain itu, karena kumisnya yang mirip Jusuf Kalla juga menjadi keunggulan lain dari Pak Foke(panggilan akrab Fauzi Bowo). Walau nggak penting, tapi lumayan lah buat nambah-nambah alasan mengunggulkan Pak Foke. Hehehe.

#Kekurangan
Kekurangan Pak Foke terletak pada kumisnya(lagi-lagi kumis!). Kenapa?  Karena kumisnya yang lebat, bisa-bisa orang mengiranya sebagai ketek yang numbuh di muka. Ini penting bagi kewibawaannya loh! Coba aja kita melihat ada orang berwajah ketek lagi jalan, bawaannya pasti pengen nimpuk pake deodorant. Sak my bol! Mana ada gubernur yang mau ditimpuk sama deodorant pas lagi kampanye?

2. Hendardji Soepandji
Nah, mari kita loncat ke cagub berikutnya. Yaitu, Hendardji Soepandji. Beliau ini adalah mantan pejabat militer di TNI. Mantep kan? Jarang-jarang nih ada jenderal yang mencalonkan diri jadi gubernur. Yang menarik, semboyannya untuk menghadapi pilgub kali ini adalah ‘JAKARTA JANGAN BERKUMIS!’ OOH MEN.  Ini bener-bener parah. Scumbag. Baru kali ini saya mendengar ada seorang cagub berkonfrontir langsung dengan cagub lainnya dengan perang semboyan. Seperti kita tahu, Fauzi Bowo kan sudah memakai semboyan ‘Coblos Kumisnya!’, lalu dilawan dengan ‘JAKARTA JANGAN BERKUMIS!’ . It’s epic, mate. Kalau nggak salah sih, berkumis itu singkatan dari kata-kata berak, kumuh, dan miskin. Jadi, Hendardi Soepandji berjanji gak akan berak, kumuh, dan memiskinkan rakyat. Oke, yang bagian ‘ber’ saya bercanda. Tapi, ini epic bro. Jarang-jarang ada pilgub calonnya adu semboyan kayak gini.

PS: Kata ‘ber’ aslinya singkatan dari ‘berantakan’, bukan ‘berak’ ya.



#Keunggulan

Keunggulan Pak Hendardi terletak pada pengalamannya sebagai jenderal di tubuh TNI. Dengan bermodalkan wajah yang teduh dan kalem, dia bisa mencerminkan wataknya yang sabar dan dekat dengan rakyat, sementara latar belakangnya itu menjadikan dia sebagai sosok yang keras dan teguh pada pendirian. Berbanding terbalik, tapi saling melengkapi. It’s extraordinary.

#Kekurangan

Mungkin, kekurangan Hendardi Soepandji terletak pada kemampuan berbicara yang sepertinya masih dibawah kandidat cagub lainnya. Ini terlihat pada debat cagub di TVOne beberapa waktu yang lalu. Dia mungkin berbicara, tapi kurang bisa meyakinkan orang yang dihadapinya, termasuk saya. Pak Hendardi terkesan seperti mengumbar janji belaka, padahal saya yakin tidak.

3. Joko Widodo
Ini dia, calon gubernur yang paling kita tunggu-tunggu. Joko Widodo, yang akrab dipanggil Jokowi. Doi adalah mantan gubernur kota Solo, dan sempat menjadi kandidat walikota terbaik di dunia, sebelum akhirnya kalah. TERBAIK DI DUNIA, gitu loh. Saya juga gak tahu, alasan apa yang bakal bisa membuat Jokowi gagal menjadi gubernur DKI Jakarta. Tapi, itu soal lain.




#Kelebihan

Kelebihan Jokowi, terdapat pada kebiasaannya memakai baju kotak-kotak(si kumis lebat sama si jenderal udah pengalaman, masa si Jokowi pengalaman lagi?). Walau aneh, tapi yuk kita telusuri.
Baju motif kotak-kotak itu sangat identik dengan sarung. Dan sarung? Huffftt….nyata-nyata sangat identik dengan…DISUNAT. Menyeramkan sekali, kawan!!  Jelas sekali, konspirasi dibalik baju kotak-kotak Jokowi. Bahkan, para pendukungnya sendiri pun ikut-ikutan pake baju kotak-kotak.  Kelebihannya? Tentu saja, pedagang baju kotak-kotak bakalan laku keras. Konspirasinya? Nggak tau.

#Kekurangan

Kekurangan Jokowi terletak pada kedekatannya yang terlalu intim pada rakyat. Bayangkan saja, setiap hari kita dicekoki berita2 Jokowi sedang bercengkrama dengan rakyat dengan intimnya, di fasilitas umum macem busway, dll. Sangat jarang cagub bisa sedekat itu sama rakyat.  Saya curiga, jangan-jangan dia adalah rakyat beneran. Jangan-jangan, dia adalah titisan Joko Anwar. Jangan-jangan….ahh.. mimin nggak sanggup lagi. Bukan asal tedeng aling-aling ya, tapi jangan mudah tertipu oleh iklan, kawan.

Udah dulu yaah… postingan tergoblok dan tersesat ini. Bagi semua cagub yang ada di postingan ini, Pak Foke, Pak Hendardi, sama Pak Jokowi, maksud saya bukan macem-macem kok. Saya hanya ingin meramaikan pemilukada kota Jakarta saja. V-peace bro! (terjemahan: pipis teman!).
Untuk 3 kandidat lain, saya akan lanjutkan di postingan berikutnya. Stay tune brow!!



 Kamseupay, Iyuuh!


Bambang Irawan
              31 Desember 2011
                          
Hari itu, hanya beberapa hari setelah UN lewat, gue pergi ke tempat bimbel Daniel untuk mendaftar sebagai siswa baru, tepatnya untuk mengambil program RSBI yang dikhususkan untuk siswa-siswa yang mau masuk SMAN 3 & maaf…..uhh....SMAN 5, yang tidak lain adalah salah dua dari lima SMA favorit di kota Bandung. Ditengah-tengah kegembiraan yang dirasakan temen-temen seangkatan gue, gue sendiri harus mendengus, merasakan pahitnya perjuangan hingga sebulan kedepan, untuk meraih cita-cita gue, masuk SMAN 3 Bandung.
                Ditengah paparan matahari yang begitu teriknya, gue melangkah dengan mantap, ke tempat bimbel Daniel yang berada dua rumah dari SMPN 44, dan juga tidak jauh dari SMP tempat gue bersemayam dulu, SMP Tarbak. Dengan membawa uang seratus ribuan dua lembar, gue mendaftar di bimbel yang katanya emang bagus buat tingkat SMP. Setelah itu, gue lihat-lihat daftar absen kelas gue. Wow!! Ternyata banyak banget temen sekolah gue yang bersemayam di kelas gue. Diantaranya, Ale, yang juga sukses masuk SMAN 3 dan juga Aldo. Lalu ada juga Nabila Gardena. Mereka semua nantinya di SMAN 3 berada di kelas yang sama.
                                ………………..
                Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu itu tiba juga. Gue berangkat dengan berbaju kemeja hitam, jeans gelap, sendal jepit gelap, kulit juga gelap(….), mirip mau kondangan. Memang, gue bakal menghadiri suatu acara yang bakal mempertaruhkan nasib gue 20 tahun kedepannya : BIMBEL PERTAMA!
                Gue duduk di kursi paling belakang, bersanding dengan temen-temen gue sesama “pojokers”, yaitu Husein, Bimo, dan Opik. Ada juga Azka, si tompel collection yang kini ada di X-4. Sementara temen-temen yang tadi gue sebutin: Ale, Aldo, Nabila…telat masuk setengah jam. Padahal, lesnya cuma 2× 45 menit, dan di sisa 15 menit itu, mereka malah asik ngobrol dan main hape, serta main-mainin guru. Sementara itu gue asik nyabutin bulu pantat gue yang mulai tumbuh. Lumayan, hari itu gue bisa dapet 5 helai.
                Pertemuan pertama itu terasa istimewa banget buat gue, karena gue akhirnya merasakan atmosfer belajar yang sebenarnya: suasana nyaman, guru yang bisa dipanggil kapan saja, gratis pula, lalu buku panduan super lengkap, yang serasa jadi kitab suci kedua bagi gue. Guru panggilan pun selalu  much available di Daniel.  

Mungkin, kalo ada orang yang nggak tahu apa maksud paragraf diatas, akan mengira bahwa bimbel itu adalah tempat lokalisasi gratis, dan gue adalah pelanggan tetapnya.

Pada hari-hari selanjutnya, gue semakin bersemangat belajar disana, seakan-akan gue adalah kloset, dan ilmu-ilmu yang baru diajarkan itu adalah air birunya. Dan juga, gue dapet temen tambahan, namanya Labib, berasal dari Cilegon, yang katanya dia itu adalah peraih rangking 1 SERU 3 kemarin. Bisa dibayangkan, betapa seringnya dia pergi ke Gunung Kidul untuk minta pesugihan, bertapa dengan cara dikubur hidup-hidup selama dua hari dua malam, lengkap dengan menyan yang dicampur bunga jeruk purut. Buseeet....
 Our School, Our Pride

Suatu saat, pas gue masuk minggu kedua, gue  lagi diajarin Ekonomi sama Pak Morgan(nama samaran). Kebetulan, saat itu semuanya masuk, tak terkecuali tiga orang itu, yang udah berkali-kali gue sebutin. Saat itu, Pak morgan lagi ngajarin tentang penyakit kulit(asli, gak ada hubungannya sama sekali dengan ekonomi).  Jadi, Pak morgan nyeritain tentang asal-usul penyakit bagi kaum kulit hitam. Gini ceritanya.
‘Anak-anak, tahu nggak, penyakit yang biasa diidap kaum kulit hitam?’ tanya Pak Morgan.

Kelas hening sebentar, semuanya sedang berpikir.
Lalu si Aldo menjawab,

‘Keiteman, Pak!!! Penyakit keiteman!!!!’ 

‘Huahahaha....Hahahaahhaa!!!!’ semuanya spontan ketawa. Cuman gue doang yang diem. Ya...Kalian tahu kan, kenapa gue cuma diem doang.

‘Aldo...Bukan itu! Yang benar adalah penyakit ebola. Itu virus yang dipakai orang kulit putih untuk mengurangi populasi kaum kulit hitam. Oh iya, penyakit AIDS juga awalnya dari orang kulit hitam juga lhoo....’

‘HUAHHAHAHAHA!!!!’ Ketawa temen-temen gue makin keras. 

Gue cuma mengernyitkan dahi. Kampret banget. Harga diri gue sebagai wakil komunitas Bandung Hideung Community dipertaruhkan disini. Namun, gue nggak punya nyali untuk membalas cercaan mereka itu. Gue cuman bisa berdoa dan komat-kamit,

 'SABAR...BANG, SABAR..... SI ALDO TOH ITEM JUGA KAN... LAGIAN, PUTIH MEREKA TUH LEBIH MIRIP PUTIH MAYAT DARIPADA PUTIHNYA ARTIS IKLAN DI TIPI-TIPI ITU..'

Tapi, karena gue tahu itu permintaan yang absurd, maka gue mencoba ngelakuin sesuatu yang mungkin bisa mengangkat emansipasi kaum kulit sawo busuk se-Indonesia dengan cara yang sensasional, sama seperti yang dilakukan Sondang Hutagalung di depan Gedung DPR, yaitu BAKAR DIRI!!!  Namun, bedanya kalo sisa abu dari tubuh Sondang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, kalo sisa abu gue mungkin dijadiin pupuk buat tanaman cengek di depan Daniel.

‘Nah, jadi begitu anak-anak. Sekarang, coba jawab, penyakit yang biasa diidap kaum kulit putih apa?’ , tanya Pak Morgan lagi.

Jawaban Aldo tadi, bagaimanapun juga, menimbulkan ide yang luar biasa brilian di otak gue. Tanpa pikir panjang, gue langsung jawab,

“KEPUTIHAN!!!!!”

‘Hah? Apa kata kamu...’, tanya Pak Morgan.
“KEPUTIHAN PAK!!!! KEPUTIHAN!!!!!” Kali ini jauh lebih keras.

Hening.

Semuanya bungkam.

Baru beberapa detik kemudian, terdengarlah gelak tawa keras dari seluruh penjuru kelas, kecuali dari barisan cewek.
 
‘HUAHAHAHAHAHA!!!!’

‘Anjrit....Hahahaha.... Nggak nyangka elu aslinya gitu, Bang...’ Aldo nepuk-nepuk pundak gue.
Karena gue nggak ngerti kenapa dia ngomong gitu, gue hanya ketawa-ketawa kecil aja, ‘Hehehehe....hehehe....’

‘Astaga, Bam...Bang.....’, cerocos Nabila sambil memasang ekspresi muka jijik ke gue. Yang lain juga begitu. Entahlah, apa hubungannya keputihan sama kebiasaan gue pipis di pot bunga? Gue bingung.

                ‘Bang.....’  Nadhifa menyebut nama gue lagi, sambil menutup mukanya. Astaga, APA YANG SALAH DENGAN KEPUTIHAN??!!’ jerit gue dalam hati.

                Barulah saat itu juga, Pak Morgan angkat bicara.

                ‘Bang, jadi...keputihan itu adalah....’ tukas dia sambil menunjuk-nunjuk selangkangan sembari menirukan suara cewek, ‘ah..uh..ah..’ dengan manja.

                "Ouhhh.... Gitu ya..." ,ucap gue pelan.

                Barulah, pada detik itu juga, gue baru nyadar, kalo keputihan itu adalah penyakit pada kelamin wanita, bukan penyakit bawaan kaum kulit putih.

Yang diatas ini cerita gak 100% asli ya, hehehe.

Selasa, 3 April



HARI ITU, gue dikejutkan dengan penemuan yang amat menggegerkan seisi rumah. Penemuan ini berkaitan dengan wabah binatang melata yang telah melanda negeri ini. Bukan, bukan. Itu bukan wabah ular kobra yang kemarin udah gue ceritain di blog. Apalagi wabah babi liar, itu gak mungkin banget (cuman babi ngesot yang jalannya melata...) Jadi, wabah itu adalah, wabah...

ULAT BULU.

Biar lebih dramatis, gue ulang sekali lagi,

ULAT BULU!!!!!!

Masih nggak ngeh?

Emang sih, kedengarannya biasa aja. Tapi, coba lo bayangin, bagaimana jika wabah ulat bulu menyerang rumah lo, di seluruh sudut rumah lo ada ulat bulunya, bahkan mungkin saat lo tidur pun, lo ditemani oleh ribuan ulat bulu di samping lo. Ganas kan?


Kalo mo muntah, muntah aja
tapi jangan di laptop lo juga :)

Ya, gue perjelas lagi. Jadi, ribuan ulat bulu itu datangnya dari pohon alpukat sekarat di halaman rumah gue. Nah, katanya, kalo pohon alpukat baru mau berbuah maka, ada proses, semacam metamorfosa dimana ribuan ulat bulu itu bakal datang untuk melahap semua daun yang tersisa, untuk pada akhirnya menjadi buah alpukat yang siap makan.

Entah apa yang gue pikirkan saat itu. Satu-satunya hal yang gue pikirin adalah, bagaimana caranya membantai ribuan ulat itu dan mengirimnya ke dasar neraka jahannam (BUSET, INI MAU NGEBANTAI ULAT BULU APA PELAKU SODOMI?)

Gue mencoba menghindar dari suruhan ibu gue yang mungkin menghendaki agar ulat bulu itu bisa dimusnahkan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Karena, jujur saja, gue sebenarnya jijik sama ulat bulu yang jumlahnya bahkan melebihi takaran pipis gue perhari itu. Gue geli aja ngebayangin pohon alpukat itu telah berubah menjadi karpet ulat bulu, saking banyaknya.

Kalo kalian masih susah ngebayangin seberapa banyaknya ulat bulu yang bersemayam di rumah gue, oke, gue bikin permisalan sederhana. Misal, kalian pipis sehari dua kali. Nah, usahakan, suatu waktu kalian tahan pipis selama beberapa waktu saja, sebagai contoh lima hari. Saat itu pula kalian keluarkan seluruh pipis yang telah ditabung selama lima hari itu. Kalo susah keluarnya, ngeden aja sekalian, biar semuanya keluar. Lalu, hitung berapa ember pipis yang kalian bisa dapatkan dari menabung selama lima hari. Itulah permisalan dari banyaknya ulat bulu di rumah gue. Errr...gue akui, gue emang agak tolol dalam urusan permisalan. Mohon maklum.

Sementara itu pembokat gue sibuk menghindari sergapan ulat bulu yang menghinggapi ruangan mushola, tempat setrikaan berada. Nah, disinilah prahara mulai mengadang gue. Pada akhirnya, ibu gue menyuruh gue buat ngambilin gantungan baju yang terletak hanya beberapa meter dari pohon alpukat terkutuk itu. Dan tentu saja, ribuan ulat bulu yang tlah mejeng sejak tiga hari yang lalu itu sudah membuat koloni baru di ruangan mushola. Dan, pastinya gue merinding jika harus berhadapan langsung dengan koloni ulat bulu itu.

Gue gak punya nyali yang cukup buat ngehadapin ribuan ulat bulu itu. Satu-satunya yang gue inget, pas ngadepin ulat bulu itu adalah, saat gue ngebantuin saudara gue menyingkirkan ulat itu didepan rumahnya. Nah, kebetulan saudara gue itu cewek. Entah kenapa, setiap ngeliat ada cewek minta bantuan ke gue, biasanya gue selalu sigap menolongnya, bahkan nyali gue berlipat-lipat lebih besar dari biasanya. Well, barangkali itu memang sifat dasar gue: terlalu banci untuk berhadapan dengan makhluk selain cewek.

...................

ANJRITT INI RUMAH APA TEMPAT PENANGKARAN ULAT BULU??? Gue gak tahan ngeliatnya. Untung saja gue masih agak soleh, jadi gue gak sampe hati ngebakar ribuan ulat bulu itu dengan siraman air keras.

Gue mencoba mencari celah diantara ulat-ulat bulu yang menggeliat kepanasan didepan gue. Sepertinya, mereka merasa tidak nyaman dengan kedatangan gue ini.

‘Sante, sob! Gue gak bakal ganggu lo kok, bul!’ , kata gue ke ulat bulu itu dalam hati.

‘Muka lo yang ngeganggu!!! Makanya kami dateng kesini!!!’, seru para ulat bulu itu, menyolot.

Buset, gue baru nyadar ternyata ulat bulu punya insting yang kuat untuk membedakan antara muka yang bagus dilihat dengan muka yang bagus untuk jadi alas pantat kebo.

Tiba-tiba....

BRESSS!!!! HUJAN LEBAT PUN TURUN.

Oh God, it might be a new trouble.

Sejenak, gue terbangun dari imajinasi gue dengan ulat bulu itu. DAMN!! Gue harus cepat-cepat menyingkirkan ulat bulu itu dan lekas mengambil gantungan baju itu. Sebuah pekerjaan yang rumit ditengah guyuran air hujan yang kian mengganas saja ini.

Pertama-tama, gue tarik napas dalam-dalam. Lalu, gue keluarkan kuat-kuat.

PREETTT!!!!!!

Oke, gue ngeluarin napas di tempat yang salah.

Kedua, gue ngelemesin jari-jari tangan.

Ketiga, gue pipis terlebih dahulu biar saat action-nya, gue gak pipis di celana.

Keempat, gue minum pil anti kejang, biar saat action gue gak sampe kesurupan arwah ulat bulu penasaran, yang mungkin bakal dendam sama gue.

Kelima, ACTION!!!!

.............

Hiyaaaa!!!! Akhirnya, setelah lima menit beraksi, gue berhasil meraih gantungan baju (asli, cuman adegan ngambil gantungan kolor aja pake dilebayin segala kayak gini)... dan gue berhasil melewati berpuluh ulat bulu yang mengitari kaki gue. Fyuuuhhh....benar-benar adegan yang sangat mendebarkan.

Dan, masalah pun selesai. Gue pun bisa tidur dengan tenang. Huhuhuhu......hari yang sangat melelahkan bagi gue. But anyway, it have been already finished.

Tapi....

‘Baammmbaaanggg!!!!!!!!!!!! ITU ADA APA DI GANTUNGAN BAJU TADI????!!!!! CEPETAN AMBIL!!!!’

‘KYAAAA!!!!!!!!’

Gue langsung terbangun dari tidur gue, walau masih dalam keadaan ngigau, ‘HAH?? HAAAHH?? KUCING TETANGGA KELINDES ANGKOT??"

‘I..ITU...!!!’

Suasana chaos.



To be continued....

PS: Ini adalah contoh diary yang mungkin bisa dikategorikan sebagai PELIT (Personal Literature),maksudnya diary yang merupakan murni hasil buah pikiran penulisnya yang cenderung bergaya komedi dan keluar dari mainstream.

Next Post:

Diary #2 : Bakar saja tuh Sepeda!




#GalauNite

Kuterbang, melayang
 menerjang langit penuh amarah kehampaan,
menembus semak belukar dimana penyesalan menaruh segala akarnya,
merangkak menjauhi api penat yang menyaru air kebahagiaan yang menyejukkan,
 menyelami samudera kerinduan sedalam-dalamnya,
menaklukkan ombak-ombak kesepian yang menderu di langit senja keputusasaan.
Ku terbang setinggi-tingginya, meraih segala yang kuimpikan,
hingga ku tak mampu lagi terbang,
 dan kujatuhkan diriku sekuat-kuatnya di bumi ciptaan-Mu ini,
 kuserahkan diriku serendah-rendahnya dihadapanMu,
kupertanggungjawabkan segala perbuatanku,
hingga Kau berkehendak menerbangkanku lagi di alam sana,
 dimana langit memancarkan senyum terindahnya,
 penyesalan hanyalah angin lalu yang memabukkan,
samudera kerinduan yang berupa Sungai Al-kautsar yang menyejukkan,
 ombak-ombak kesepian yang berdebur kala ku melihat wajahMu, langsung.

Huehuehue...
Finally, i could finished it perfectly. Thanks God, with Your valuable 15 minutes.
Sekian lama gue nggak bikin kayak ginian, rasanya tuh benar-benar jleb banget ketika gue mandapati kenyataaan bahwa gue telah membuat puisi kayak gini, lagi. Walau saat ngerjain ini, gue lagi belajar fisika, dan mendapati bahwa diri gue lagi males belajar fisika. Pada akhirnya, menulis adalah satu-satunya pelampiasan rasa frustrasi gue terhadap kehidupan. Gue masih inget banget kata-kata Sofie Beatrix yang “dengan membaca, kita bisa mengetahui dunia luar, dan dengan menulis, dunia luar bisa tahu kita.” Gue tergila-gila sama nih kalimat, hingga akhirnya gue memutuskan, bahwa menulis adalah hobi gue yang harus dilaksanakan kapanpun dan dimanapun. Dan hasilnya, tentu saja membanggakan bagi gue. Beberapa tulisan gue, yang gue muat di blog dan di Note Facebook, adalah hasil mencuri waktu belajar gue. Pernah suatu waktu di postingan “Sinetron”, yang gue tulis saat otak gue lagi mampet menghapalkan ulangan PKn yang bahannya sampai segunung itu. Dan, gue akhirnya bener-bener paham dengan apa itu definisi yang dilontarkan Raditya Dika di harian Kompas beberapa tahun yang lalu, yang begini bunyinya,”Setiap ada inspirasi, keluarkan, jangan lo tahan-tahan.” Alhamdulillah, sejauh ini tulisan yang gue buat sekarang ini adalah tulisan yang sama sekali nggak gue rencanakan sebelumnya. Tetapi, ketika ada sepercik ide muncul di otak gue saat belajar fisika, dan laptop sudah tersedia di depan mata, maka mau tidak mau gue nulis juga, apapun hasilnya. Namun, sekolah-lah yang pada akhirnya harus diutamakan. Jadi, udah dulu yah...gue mau nonton Mata Lelaki dulu...yaa....Dadaaah!!!!!....
*brb nonton ML dan tutup buku cetak*



Gedung kantor pos itu, dipandang dari jauh terlihat biasa saja. Sama seperti gedung-gedung sebelahnya, kayak gedung SMPN 7 dan SD Taruna Bakti, bangunan tempat gue bersemayam dahulu. Jika dilihat dari dekat, memang agak suram sih. Jendela-jendela gelap yang menjadi khas bangunan jaman Belanda, tersusun rapi di seluruh sisi gedung. Pun dengan atapnya yang bergaya khas Eropa jadul itu. Dengan lapang parkir yang luas, plus berlantai tujuh, setidaknya gedung ini sangat nyaman untuk disinggahi. Khususnya bagi anak-anak sekolahan yang sedang mencari jati diri, kirim-kiriman surat ke kecengannya lewat kantor pos. Untungnya, gue nggak pernah mengalami hal sedemikian, yang tersisa hanyalah kenangan suram masa lalu yang ingin gue ceritakan disini.
sebelahnya SMPN 7.
Waktu itu, pas gue masih duduk di kelas 5, kami ditugaskan untuk mempraktekkan cara mengirim surat langsung ke Kantor Pos tersebut. Berbekal dua biji materai plus kertas surat khusus yang gue beli dari kantor pos, gue berjalan dengan mantap ke sana. Tak ada perasaan nggak enak pas perjalanan, palingan cuma pulpen yang ketinggalan di tas, serta boker yang sudah keluar setengah. Belakangan gue baru nyadar kalo dua hal itu ternyata menjadi masalah besar buat gue. Terang saja, gue langsung hijrah ke WC sesampainya di sana.
Singkat kata, akhirnya gue berhasil juga menuntaskan tugas menulis surat itu, yang menurut gue semudah mengepalkan tangan. Dengan bahasa standar orang-orang intelek seperti, ‘Apa kabar kucingnya? Nggak diare lagi kan? ’ atau ‘jangan lupa cebok habis pup lhooo...’ dan yang paling bergengsi adalah ‘kata Mama, orang kidal tetep harus pake tangan kiri ceboknya’.... dan kata penutup, ‘Ceumungudhh EaAa QaQa....’ Ganteng kan?
jangan percaya dengan tulisan kayak gini
Alkisah, gue berencana naik lantai sama temen gue, namanya Chandra. Orangnya pinter, pendiem, kepalanya miring, mirip DJ yang lagi salah urat. Makanya di sekolah dia sering diejek “Si Miring” atau “Si Stroke” karena miringnya itu. Selain itu, gue sering menemani dia kalo lagi ditindas seperti itu, berhubung gue emang nggak punya temen pas SD. Duo cupunista sejati.
Kembali ke Chandra. Dia mengajak gue untuk naik tangga ke lantai atas, selepas mengerjakan tugas itu. Gue sih mengiyakan saja, berhubung gue lagi bosen sendirian terus.

‘Bang, mau naik ke lantai ketujuh nggak?’, Chandra memulai pembicaraan.
‘Nggak ah, maunya sih, naik ke langit ketujuh.’, Canda gue.

Aku serius Bang.....Di lantai atas bagus lho pemandangannya...’ ,Ajak Chandra.
‘Nggak juga ah...bagusan langit ketujuh kalee....’, Canda gue lagi, berharap dia ketawa.
Eh, nggak tahunya, dia malah ngambek, terus ninggalin gue sendirian.
‘Eh Chandra, tunggu!! Don’t leave me alone!!!’, seru gue dari bawah.
Gue takut kalo naik tangga sendirian. Akhirnya gue ikutin dia naik tangga yang super gelap.
Awalnya sih biasa aja. Tapi entah perasaan apa yang menyelimuti gue, pas udah nyampe lantai kedua, bulu kuduk gue mulai berdiri semua. Untung aja bukan bulu pantat gue yang berdiri, kalo berdiri bisa-bisa gue ambeien selama sebulan.
Hantu tersesat
‘Dra, kok perasaan aku nggak enak ya?’ Tanya gue.
‘Hah iya gitu? Aku mah biasa aja.’
Gue coba takut-takutin dia. Mungkin jika dia ketakutan, dia bakalan turun tangga, dan gue bisa terbebas dari siksaan gaib ini.
‘Dra, tahu nggak. Di lantai sini katanya angker lhoo....Hiiii.....’
‘Oh iya gitu? Asa biasa aja ah.’
‘Beneran nih. Aku pernah ke sini kok. Seyeemmm....’ Gue diem-diem mulai meninggalkan Chandra, gue turun tangga. Gue berharap dia jadi ketakutan dan ngebatalin petualangan mistis ini.
‘Tap....tap..tap’ Suara langkah kaki gue terdengar dari ujung tangga.
‘Eh Bang, kamu mau kemana?’
Gue sengaja nggak acuhkan omongan dia. Gue malah mempercepat langkah, dan akhirnya : lari.
‘Dadaaahhh Candra... Hihihihihii....’ Gue berlari sambil nakut-nakutin dia, ngarep dia bakal ikutan kabur sama gue juga.
Tapi...
Yang terjadi adalah, Chandra nggak takut. Dia  malah nerusin naik tangga.
Kampret. Gue udah terlanjur lari. Kalo gue nerusin pelarian gue, gue harus berhadapan dengan lorong mistis yang masih terentang panjang di depan: SENDIRIAN.
Kalo gue berhenti, terus balik badan ikutin dia lagi, gue bakalan dicap sebagai pecundang sejati. Tapi, karena tangga itu terlalu sulit dilukiskan betapa menyeramkannya, jadi ujung-ujungnya gue balik lagi ke atas.
‘Lho...Bambang. Kenapa balik lagi?’ Tanya Chandra, keheranan.
‘Ee..ngg..ak. Ta..di a..ku ra..ra..sa a..da ya..yang ma..manggil-manggil a..a..ku da..dari ba..wah, ma..ka...nya a..aku tur..turun ben..bentar...’ jelas gue, merinding.
‘Ooohhh....Dikirain kamu takut turun sendirian.’
Gue menelan ludah.
........................................
Unfortunately, gue ikut dia menyusuri tangga yang tak bisa dilukiskan betapa gelapnya, dan juga begitu banyak barang yang berserakan, darah berceceran, dan tetek bertebaran(lho?). Pokoknya, suasananya sangat muram, apalagi pas udah nyampe lantai empat. Disana kelihatan jelas ruangan-ruangannya tidak terawat, meja-meja terguling tak diurus, dan kertas-kertas nggak jelas berserakan disana-sini. Suram maksimal.
Semakin atas gue melangkah, semakin banyak pula bulu kuduk gue yang berdiri. Nope, gue selalu teringat pada stigma masa kini, bahwa kalo ada dua orang lagi berduaan di tempat gelap, maka ada orang ketiganya, yaitu setan. Sumpah, gue takut setengah mati sepanjang perjalanan. Apalagi, auranya emang nggak enak banget di sana.
Untungnya, waktu gue udah hampir nyerah di ajang uji nyali ini, gue melihat ada secercah cahaya merekah di ujung pintu, di seberang tangga. Akhirnya, gue diam-diam meninggalkan dia, berjalan ke arah sumber cahaya tersebut, dan alhamdullilah, ternyata ada banyak teman gue di sana, mereka juga lagi seru-seruan ikut ajang uji nyali ini.
Akhirnya, gue lepas juga dari siksaan batin ini. Kini, gue berkumpul bersama temen-temen gue, salah satunya Arka, berjalan menjelajahi lantai 4. Saat gue berjalan, tiba-tiba gue melihat sosok anak kecil, sepertinya masih SD, lari-larian di salah satu ruangan di lantai sana. Sangat nggak masuk akal, anak kecil seperti dia berkeliaran sendirian di lantai yang seram seperti ini. Belum selesai perasaan nggak enak gue hilang, dia lari menjauh dari jangkauan mata gue. Karena gue penasaran, gue melangkahkan kaki masuk ke ruangan. Saat itu, gue masih berada di pintu. Namun...
Gue terkejut setengah mati. Ternyata dia menghilang!!! Padahal, gue tahu di sekitar tempat dimana dia menghilang, nggak ada pintu buat keluar. Lagian juga, nggak ada lubang jebakan disekitar lantai itu, yang mungkin membuat dia terperosok ke lantai bawah. Gue coba cek keberadaan dia dengan beberapa cara.
Pertama, gue cek langit-langit. Dia masih nggak ada. Nope, mungkin dia keturunan Spiderman, gue pikir. Tapi ternyata bukan.
Kedua, gue cek punggung gue di cermin-cermin yang bertebaran di lantai tersebut. Lagi-lagi nggak ada.  By the way, gue masih trauma dengan film Shutter. Disitu diceritain bahwa hantu yang ada di cerita itu suka nangkring di punggung seseorang, dan baru kelihatan pas udah di cermin, atau pas difoto. Tapi ternyata dia bukan orang yang suka digendongin sopirnya.
Ketiga, GUE LARI SEKENCANG-KENCANGNYA!!!!!
Untungnya, kali ini temen-temen gue ketakutan juga dan ikut-ikutan kabur bersama gue. Kali ini, gue menuruni tangga darurat, yaitu tangga yang biasa digunakan bila ada bencana gempa, atau sejenisnya. Tapi kini gue gunakan untuk melarikan diri dari kejaran makhluk gaib. Sangat nggak elit.
Kami berlari menyusuri tangga-tangga, yang alhamdulillah terang untuk kali ini. Kami terlihat seperti para bencong lepas dari kandangnya, yang ketakutan dikejar-kejar Satpol PP.
Sangat menyedihkan.
Kami sampai di lantai 1, tapi kami tiba di tempat parkiran, yang lagi-lagi tempatnya menyeramkan. Gue terus memacu langkah kaki, hingga akhirnya ketemu salah satu guru yang paling kejam waktu SD, yaitu Bu Eti.
‘Cepetan!! Yang lain udah balik ke sekolah.’ Perintah Bu Eti.
‘Oh..Iya Bu. Maaf. Tadi kami ke atas dulu.’ Jawab gue.
‘Pantes. Kalian lari gara-gara ketakutan ya? Diatas kan emang banyak hantunya.’
Gue nggak menjawabnya, lalu meneruskan pelarian gue. Gue curiga, kenapa dia bisa tahu ya? Jangan-jangan, dia salah satu dari “mereka”. Gue makin takut.
Alhamdulillah. Gue sampe juga ke sekolah, dengan peluh masih bercucuran di wajah. Kelompok kecil gue pun begitu, yang tadi ikutan uji nyali sama gue. Lalu, kami banyak ditanya-tanya sama temen yang lain, kenapa jadi ngos-ngosan kayak gitu.
Akhirnya, Arka pun menceritakan apa yang terjadi tadi. Dia menceritakannya dengan penuh dramatis, seolah-olah kami habis ketemu dengan setan sebenarnya. Temen-temen pun banyak yang memperhatikan.
‘Tadi tuh, aku ketemu sama kuntilanak di tempat parkiran tadi.’, kata Arka.
‘HAH??!! Ketemu?? Maksud kamu, kamu udah janjian duluan sama kuntilanak itu?’
‘Enggak!! Maksud aku, aku ngeliat kuntilanak tadi.’, jelas Arka.
‘Wah??!!! Gimana bentuknya?? Ceritain dong!’ , tanya teman yang lain.
‘Jadi gini, bla...bla...bla...’, jelas Arka. Gue nggak sanggup menuliskan semuanya di sini. Takut nggak bisa tidur.
Dari tadi pembicaraan berlangsung, gue cuman mendengarkan saja apa yang terjadi. Padahal, gue punya pengalaman yang lebih menyeramkan lagi.

Lalu, tiba-tiba Chandra masuk dan merebut pembicaraan.
‘Ehm....aku tadi sampe lantai paling atas lho.' jelas dia.

Gue yang penasaran kenapa dia bisa sampe senekat itu, langsung nyerocos nanya,

'Wah, chandra. Kapan kau balik lagi? Aku kira kau udah diculik setan itu.'

Namun, dia tak menggubris. Dia ternyata mementingkan cewek-cewek yang sudah mengantri untuk berbagi pengalaman mistis dengan dia.
‘Wah hebat Chandra! Aku aja baru lantai dua udah gak kuat.' puji salah satu cewek.

'Wah gilaaa!!!! Ngeliat sesuatu yang aneh gak di atas?' puji cewek yang lain.

'Ehm.....nggak tuh. Palingan cuma ada bayangan putih yang lewat.' jawab Chandra, dengan penuh percaya diri.

'Keren..keren. Kamu nggak papa kan?' tanya cewek lainnya.

'Nggak. Santai aja kali.' tambah Chandra.
Anjrit. Gue dari tadi nggak kebagian pembicaraan. Akhirnya, gue coba merebut pusat perhatian, dengan memotong pembicaraan.
‘AKU!!! AKU tadi ngeliat hantu seyemm banget!! Badannya nggak ada. Terus tangannya yang tersisa cuma jari-jarinya doang. Terus, dari kakinya cuma tersisa lututnya saja. Yang paling parah adalah mukanya. Udah mukanya hancur, ada tititnya lagi...hii...serem banget..parah..!!!!’
Hening.
‘Bang...itu be..beneran...kamu lihat...?’ tanya Arka, dengan penuh keheranan.
‘Kalo kamu nggak percaya, liat aja sendiri..Hii....’ jawab gue, penuh semangat.
‘Gilaa...baru denger ada hantu kayak gitu..’ jawab salah satu temen.
‘Hii...hayo bubar ah. Perasaanku nggak enak nih.’
‘Iya..iya. Kayak ada yang lagi ngedengerin.’
Setelah berhasil menakut-nakuti semua yang ada disitu, akhirnya gue membuka kedok yang sebenarnya.
‘HUAHAHAHA....April Mop!!! Hahahaha...!!!! Kena Deh!!’ Padahal, gue tahu bulan ini bukan bulan April. Tapi gue ketawa sepuas-puasnya.
‘Astaga. Kalo kamu cerita yang nggak-nggak, nanti yang aslinya ngedatengin lho.’
‘Iya..iya. Nanti dia ngikutin kamu terus lho.’ bilang salah satu temen gue, penuh ketakutan.
Kampret. Gue lupa UU persetanan yang satu ini, yang bunyinya, “Jika kau menggambarkan hantu menurut cara pandangmu sendiri, maka dia akan bertransformasi mengubah wujudnya seperti yang kau katakan, dan akan mendatangimu.”
Gue buru-buru mengalihkan pembicaraan, dengan bilang, ‘Eh..Jambulnya Syahrini bagus yah..’
.............................................
Met pagi!!!! Kali ini gue akan nge-share beberapa quotes favorit gue sampai sejauh ini. Buat yang nggak tahu, quotes itu adalah beberapa kata yang berbentuk pepatah, dan biasanya berisi nilai kehidupan. Nggak usah banyak basa-basi, yuk langsung kita check-this-out!!!!!!!

"Orang yang mengejarmu dari belakang dan orang yang berlari menjauhimu di depan, tidaklah sama dengan kau berlari mengejar kedua-duanya, hingga kau dapatkan apa yang kau cari selama ini."(@donmarichuy)

"Bersyukur adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan, karena kita tidak tahu caranya dan kenapa kita harus bersyukur" (@donmarichuy)

"Mengejek keburukan orang lain sama saja dengan memuji kelebihan diri sendiri. Sama-sama merusak.'(@donmarichuy)

"AKUCINTAKAMU, tanpa spasi. Sebab, aku tidak mau ada jurang yang memisahkan diantara cinta kita, dan tak satupun yang dapat mengisi kehampaan hati kita yang sedang kosong," (@tweetPEPATAH)

"Manusia bisa jadi semulia malaikat, atau bahkan lebih hina daripada setan. Manusia adalah makhluk paling sempurna. Jadi, pikirkanlah." (Bobby Yudha)

"Hari esok tidaklah mustahil kita dapatkan. Tapi, apa gunanya merencanakan hari esok, jika kita mengabaikan apa yang kita lakukan hari ini, dan yang sudah kita dapatkan hari kemarin." (@donmarichuy)

"Apa yang akan kita dapatkan adalah apa yang sudah kita berikan."(from New Radical-Get What you Give)

Kesialan berawal dari kecerobohan. Kecerobohan datang dari kelalaian. Kelalaian dikarenakan ketidakfokusan pada sesuatu yang penting. Jadi, ketidakfokusan  dapat mendatangkan kesialan."(@donmarichuy)

"Jika kau cinta dunia, maka kan-Ku berikan dunia itu seutuhnya. Sesungguhnya, dunia itu takkan memberikan keuntungan samasekali bagimu di akhirat kelak."(Al-Qur'an)

"Masa remaja itu sebentar. Masa dewasa itu sangat panjang. Jadi, tunggu apa lagi? Songsonglah masa dewasa dengan seluruh kejenakaan dan kepolosan kalian!!!" (@donmarichuy)

"Sesungguhnya Allah itu Maha Kaya, tak perlu pemberian manusia. Manusia diperintahkan bersedekah, justru pada akhirnya sedekah itu jadi bekal manusia sendiri di hari akhirat kelak." (Al-Qur'an)