Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts



Puisi Aku Percaya
Karya: Bambang Irawan

Kau memberi hari-hari tercerah dalam hidup

Kau membuaiku dengan angan-angan memabukkan
Kau mengisi kekosongan ini dengan air mata kasih
Dan sampai saat ini, aku masih percaya
Aku percaya, walau kumulai rapuh digerogoti rasa cemburu
Aku percaya, walau kubosan menghamba pada penantian
Aku percaya, walau resah dan kalut berkonspirasi melemahkanku
Aku percaya hingga kau mengatakannya padaku.


Puisi Keangkuhanku

Karya: Bambang Irawan

Aku adalah manusia diatas manusia

Aku pemilik kuasa atas semua jiwa hidup disini
Aku bagai segenggam jiwa tak beraga
Berbicara dalam bisu, mendengar dalam sunyi
Berseru tak bergema, melangkah tak berjejak
Seluruh keangkuhan hanyalah milikku semata
Jika kau tak percaya, tanyakanlah pada Tuhanku.



Karya: Bambang Irawan

Sudah terlalu lama tubuh ini

Mengagum dalam bisu
Tergetar dalam tawa
Tersipu dalam kedipan


Sudah bosan resah ini menggantung

Hati yang terbiarkan menunggu
Detik demi detik yang merangkak perlahan
Seakan tubuh ini terpenjara olehnya



Mungkin ku hanya bisa membiarkan rasa ini

Membusuk pelan-pelan dalam angan
Menguap ditelan waktu
Dan hangus terbakar api cemburu




Judul: Titik
Karya: Bambang Irawan


Aku ingin menjadi huruf pertama dalam mimpimu yang belum terpejam

Aku ingin menjadi jeda dalam setiap sendumu yang tak terjamah hujan sore
Aku ingin memeluk bahagiamu yang bercorak langit biru dalam sepasang tanda kurung
Aku ingin menjadi kenanganmu yang terbangun di tengah malam dalam tanda seruku

Aku ingin menjadi jawaban atas semua kekalutanmu dalam titik dua

Aku ingin menjadi nafas pelangi yang menangkal deburan air matamu
Aku ingin menjadi titik yang mengakhiri semua derita di hayatmu
Terakhir. Aku ingin mengatakannya dalam sepasang tanda kutip.
"Aku ingin menjadi milikmu."






Aku selalu suka
Saat senyum berurai pelangi
Menghias sudut wajahmu
Walau hanya sekejap rintikan hujan



Aku masih ingat

Kopi pagi yang menemani riak juang kita
Peluh terik yang merasuk fana kita
Selimut malam yang menghangatkan cumbu kita


Dan baru saja kusadar

Cium berlatar lembayung senja tadi
Mungkin adalah yang terakhir
Karena kau tak terlahir untukku




Ada sebuah bisik berlari di matamu
Ada seonggok kenangan menyelinap di pipimu

Sebuah tanya yang tak ingin membasahi pipimu
Hanya derau yang menyulap rintik air matamu

Dikala pengakuan yang menyingkap pintu hatimu
Karena mengingatmu adalah neraka bagiku


Lelahku menyimpan semua kenangan
Yang memaksa 'tuk selalu diingat
Karena kaulah satu-satunya
Panel tanpa antena dalam memori ini

Sebuah tanya terhampar di dada
Seonggok asa berdiri di pintu hati
Menanti sebuah jawaban
Dan kepastian yang perlahan memudar

Seperti langkah tak berjejak
Seperti berasa tapi hambar
Seperti mencinta tapi hampa
Seperti tangis tak berluka

Air laut pun takkan mampu
Meluapkan segala amarah ini
Karena, rumput pun takkan menjawab
sebuah tanya yang menelusuk ini.



Meringis, sakit membakar dada ini.
Betapa memalukannya bangsa kita.
Harga diri semurah sesiung bawang.
Betapa rendahnya bangsa kita.

 
Untuk sebuah kursi saja butuh seorang jalang.
Betapa hinanya bangsa kita.
Recehan hasil bumi kita diperebutkan orang lain.
Betapa lucunya bangsa kita.

Uang dijadikan Tuhan, Tuhan dijadikan dalil busuk.
Betapa busuknya bangsa kita.
Firman Tuhan hanyalah sebatas buku di atas kepala-kepala mereka.
Betapa kafirnya bangsa kita.

Tapi, tenang saja, kawan.
Itu semua hanyalah angin lalu.
Semua kesalahan mereka ada di pundak kita.
Kita masih muda, beda, dan berbahaya.

Kita adalah IndONEsia.
Kita satu, bersatu untuk satu tujuan.
Satu langkah.
Untuk menjadi Indonesia.






Hening, milyaran bintang di langit,
 Menyambut derap langkah sang pemuda,
 mengitari, menyusuri ruang labirin tiada habisnya,
 tiada cahaya menyertainya,
 tiada pula kegelapan mengasihaninya. 

Segelintir malaikat menyaksikannya sambil duduk termangu,
menyingkap sebagian isi langit,
 pemuda itu terkejut, lalu menghentikan langkahnya,
dia terjatuh, peluh membasahi tubuhnya.
Raganya berteriak parau,
tubuhnya tergolek mengigau,
rantauan jiwa yang merindukan Tuhannya rancu,

lenyap ditelan samudra penyesalan yang bertalu-talu, 
mengharap keharibaan-Nya walau kesemuan menggebu-gebu,
 pada akhirnya, jiwa menemui Tuhannya dalam keadaan terkejut,
tiada dia menderu penyesalan sekeruh air bercampur debu,
debu dari segala dosa bercampur taubat yang semu.
                                                                 





Di luar sana, semua orang bilang
Tentang mengapa, dan bagaimana 
jagat raya ini bisa terbentuk.

Dan, dijagat dunia yang lain

Mungkin, hanya segelintir orang yang bilang,
'Mengapa kita masih mempertanyakan itu?'

Lalu mereka bilang, 'Bukankah Tuhan sudah menciptakan semuanya 
Dengan sesempurna mungkin?'

Lalu, kelompok yang pertama pun menggugat
Mereka mencari segala pembenaran atas semuanya
Semua, yang mereka perjuangkan selama ini







Di sini, ratap bersenggama
Mencumbu suasana tanpa tatapmu
Sepiku adalah desirmu
Heningku adalah tawamu

Wajahmu, hidungmu, bibirmu
Pesona Tuhan yang terindah
Sikapmu, sikapmu, dan sikapmu
Tiga kata  itu pun takkan cukup

Cinta, memang tak punya indera keenam
Tak dapat membuka tirai kegelapan
Sebatas harap kosong membelah langit sunyi
Akulah, cermin dari impian terhampamu