Review Film: Haunt(2014)






Film horor yang berjudul “Haunt” bercerita tentang sebuah keluarga yang menempati rumah impian. Namun dengan membawa masalah bahwa rumah itu dikutuk, setelah menyebabkan kematian keluarga sebelumnya saat menempatinya, hanya menyisakan seorang anak remaja lelaki.

Remaja lelaki berusia 18 tahun yang kelihatan murung dari keluarga dan tetangga misterius barunya sengaja membangkitkan sesuatu di rumah tersebut, dan malah membawa masalah baru yang jauh lebih serius.

Sebuah ide yang klise dimana setting di sebuah rumah yang berhantu menjadi ide pokok dari cerita film ini. Yap, semenjak sukses The Conjuring, ide untuk membuat sebuah film horor berbudget tidak tinggi dengan mengeksplorasi habis-habisan sisi gelap dari sebuah rumah berhantu menjadi trend film horor akhir ini. Tak terkecuali Insidious 2, walaupun idenya terbentuk semenjak film pertamanya yang lebih dahulu dibuat dibanding The Conjuring, tapi kesamaan sutradara yaitu James Wan membuat nuansa kedua film ini menjadi mirip.



 Namun, sebuah ide yang klise seperti diatas bisa menjadi menarik apabila sisi horor dari rumah tersebut bisa dieksplorasi habis-habisan tanpa harus repot-repot memikirkan jalan ceritanya mesti seperti apa, karena penonton datang ke bioskop hanya untuk ditakut-takuti, tak lebih.

Nah justru itulah usaha yang malah ditinggalkan oleh MacCarter, sang sutradara. Bukannya mengeksplor habis-habisan rumah yang katanya terkutuk itu, tapi dia malah mengupas sisi romantisme yang berlebih dari kedua tokoh utamanya, Evan dan Samantha. Dimulai dari pertemuan mereka yang tak sengaja di tengah hutan, terus dan hampir di sepanjang film fokus mengarah kepada percintaan mereka. Film ini terlalu banci untuk bisa dikategorikan sebagai film horor, jika mengingat fokusnya pada Evan dan Sam, film ini lebih tepat dikatakan drama percintaan remaja dengan setting rumah yang seram, yang sebenarnya sama sekali gak seram.

Bisa dibilang Mac Carter gagal dalam usahanya mengeksplor ide yang klise tersebut. Dan kegagalan itu berakibat fatal. Penonton hanya disajikan drama sehari-hari dari sepasang remaja yang kasmaran, yang kebetulan sedang membongkar misteri dibalik alat komunikasi dengan hantu di rumah tersebut. Sebenarnya, kegagalan itu masih bisa diperbaiki dengan munculnya karakter-karakter kejutan. Awal film sudah menunjukkan arah yang menjanjikan untuk itu, dimana ada karakter adiknya Evan yang misterius, dan juga Nyonya Morello yang berperan penting dalam sejarah di rumah tersebut. Tapi lagi-lagi ekspektasi itu hanya sebatas khayalan kosong, karena endingnya yang menggantung dan sama sekali tidak menyinggung karakter-karakter potensial tersebut.



Sepertinya sudah cukup bagi saya untuk menghina film ini. Dua kata untuk film ini:  not recommended. Terutama bagi yang berekspektasi akan hadirnya film hollywood yang selevel dengan The Conjuring. Kecewa!

0 komentar: